heteroculture IBX583E46ECC8CCF

Jul 7, 2025

Seseorang Yang Mengenalimu

Kemarin aku ada urusan yang harus diselesaikan di kota S, sehingga harus berangkat agak pagi biar nanti sampai di sana tidak terlalu siang. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit, aku mampir sarapan untuk mengisi perut, njagani, karena biasanya ketika sudah mengerjakan urusan membuat lupa soal perut. Bisa-bisa kelaparan. 

Mobil kubelokkan ke salah satu rumah makan di jalan lingkar, sekilas parkiran di rumah makan tersebut tampak penuh dengan kendaraan yang parkir, dan dapat spot parkir di depan toilet. 

Ketika keluar dari mobil, aku berpapasan dengan seseorang yang baru saja keluar dari toilet, kami sempat beradu pandang. Pertemuan itu membuatku berpikir, wajahnya seperti kukenal, tapi aku lupa siapa. Awalnya kupikir wajahnya mirip dengan anak dari sepupu jauhku, tapi posturnya tidak setinggi orang yang baru keluar dari toilet. Akhirnya pikiran itu hilang menguap begitu saja.

Memasuki rumah makan, kulihat hampir semua meja dan kursi tampak penuh berisi pengunjung, karena memang ini pas waktunya orang-orang biasanya sarapan pagi. Ketika sedang mencari tempat duduk, aku berpapasan dengan seorang perempuan yang wajahnya seperti kukenal. Wajah seseorang dari waktu yang jauh dan dari tempat yang lampau. Tapi kupikir, ah, paling hanya mirip saja.

Lalu aku disibukkan dengan memilih menu yang hendak kusantap pagi ini. Aku memilih lauk telur ceplok, sayur nangka dan kacang panjang. Lalu duduk di salah satu tempat.

Kebetulan tempatku duduk itu berseberangan dengan perempuan yang berpapasan tadi. Dan kebetulan lagi, dia duduknya menghadap ke arahku sehingga aku bisa lebih leluasa memandang wajahnya sambil mengingat siapa dia sebenarnya. Di sebelahnya, duduk seorang laki-laki yang tadi beradu pandang di depan toilet sewaktu aku memarkir mobil. Sebuah kebetulan yang entah apa.

Di tengah aktivitas makan, aku merasa butuh mengambil kerupuk yang ada di meja belakangku. Lalu aku berdiri mengambil kerupuk itu. Sewaktu berbalik hendak duduk kembali, aku beradu pandang dengan perempuan itu. 


Dia tersenyum sambil melakukan gerakan seperti sedang mengingat-ingat, kemudian dia bertanya, "Mas Y?" 

"Ya", jawabku.

"Di mana sekarang?", tanyanya lagi.

"Di kota J. Mau kemana?", tanyaku balik.

"Ke kota S"

"Gak kerja?", tanyaku lagi.

"Bolos", jawabnya.

Kami kemudian melanjutkan aktivitas masing-masing. Apa yang ada dibenakku tidak lagi hidangan yang ada di piring di depanku, tapi adalah kenyataan bahwa ternyata dia masih mengenaliku, sedangkan aku sendiri menolak pikiranku bahwa dia adalah perempuan dari masa lampau. Ah, dunia yang sempit dan kebetulan yang entah.

Selesai makan, dia pamitan duluan sambil senyum dan menyapa "Yuk, duluan".

Mar 7, 2024

Aku Bukan Orang Baik!

AKU bukan orang baik. Tepatnya tidak terlalu baik. Aku juga sering melakukan dosa dan kesalahan yang mungkin banyak orang lain lakukan. Mencuri, mabuk, main perempuan atau tidak beribadah. Meski sewaktu kecil aku sekolah madrasah, tapi sampai sekarang aku tidak lancar mengaji. Aku hanya bisa membaca dengan lancar dan hafal beberapa surat pendek saja. Itu pun karena beberapa surat tersebut sering kubaca kalau aku sedang beribadah. Sekali lagi, kalau sedang beribadah.

Semenjak diterima kerja di sebuah kota besar di ujung barat Pulau ini, aku menjadi akrab dengan hal-hal yang di mata orang banyak dianggap tidak patut. Tidak baik.


Pertama kali menginjakkan kaki di kota ini aku langsung berkenalan dengan Panut, seorang pencopet yang biasa beroperasi di terminal. Perkenalanku awalnya terjadi karena memergoki dia mencopet seorang mahasiswi cantik di sebuah bis kota yang kebetulan aku naiki.

Waktu itu, anehnya aku tiba-tiba lupa dengan segala pesan-pesan baik dari kedua orang tua dan teman-teman di kampung. Waktu itu yang ada di kepalaku adalah pikiran bahwa pencopet itu sungguh memiliki nyali yang cukup besar untuk melakukannya, dan hanya orang-orang pilihan yang sanggup melakukannya. Salah satunya adalah Panut.

Sekian tahun di perantauan sudah membuatku lupa tentang banyak hal dari tempat di mana aku berasal. Siapa nama teman karibku, yang sering mengajak bolos madrasah dan malah mengajak jeguran di kali yang airnya keruh seperti susu. Apa makanan kesukaanku yang selalu kusantap dengan nikmat di setiap acara sedekah bumi setahun sekali.

Banyak hal yang terlupakan. Namun di antara banyak hal yang terlupakan itu, terselip juga satu hal yang masih membekas di ingatanku. Seperti luka yang meninggalkan bekas sayatan di muka Panut sewaktu berkelahi dengan preman di terminal sebelum dia berhasil menaklukkannya, lalu menebusnya dengan tinggal di penjara selama 5 tahun. Hal yang masih membekas, meninggalkan tanda yang begitu sulit untuk dilupakan.

 

src: bing image creator


***


MATAHARI mulai angslup ke peraduannya diiringi semburat berwarna jingga di ufuk barat. Burung-burung berombongan terbang pulang ke sarang. Jendela-jendela segera ditutup dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Sebentar lagi dari langit akan terdengar suara azan sebagai penanda bahwa maghrib telah tiba. Orang-orang tua mulai menyuruh anaknya untuk segera masuk ke rumah. Dan jika ada yang belum pulang, mereka akan bergegas mencarinya sampai ketemu dan menggiringnya pulang sambil mulutnya meracau penuh omelan.

Demikian juga denganku dan adik lelakiku. Setiap senja datang dan gelap malam mulai menjelang, kami dilarang untuk keluar rumah. Kata bapak, waktu senja yang merupakan waktu perputaran dari siang menuju malam adalah waktu yang rawan. Pada saat-saat itu candikala akan datang dan mengambil anak-anak kecil yang masih berkeliaran di luar rumah untuk dijadikan santapan makan malamnya. Maka dari itu ketika hari mulai senja, keadaan kampung menjadi sepi. Tidak ada gelak tawa dan celoteh riang anak kecil. Tidak ada suara berlarian anak-anak bermain. Yang boleh berada di luar rumah adalah mereka yang sudah dewasa dan orang-orang tua semacam mbah Usup, seorang veteran perang jaman kemerdekaan yang setiap malam datang ke rumah hanya untuk numpang tidur dengan alasan menonton televisi.

Pernah aku bertanya tentang alasan kenapa anak-anak tidak boleh keluar rumah pada saat senja hari kepada mbah Usup di sela-sela perhatiannya menonton siaran langsung sidang kabinet yang ditayangkan TVRI. Tapi bukan jawaban yang memberikan pencerahan atas rasa keingin-tahuanku melainkan sebuah dampratan yang tak habis-habisnya sampai mbah Usup tertidur kelelahan.

Mbah Usup merupakan orang tertua di kampungku dan dia selalu dijadikan rujukan pertama atas segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, peristiwa atau hal-hal lain yang terjadi yang berhubungan dengan kampung ini. Apapun yang dikatakan oleh mbah Usup selalu menjadi dogma, selalu benar, selalu dituruti. Tidak ada yang berani membantah apapun perkataannya. Termasuk bapak.

SETELAH dewasa aku mencoba mencari tahu bagaimana sejarah yang tercipta di kampungku. Mbah Usup sudah lama meninggal karena sakit, setelah istrinya mendahuluinya sebulan sebelumnya, tanpa meninggalkan seorang anak pun.

Dari cerita-cerita para tetua kampung sepeninggal Mbah Usup kuperoleh sebuah kisah yang menjadi latar belakang kenapa setiap senja hari anak-anak kecil di kampung ini tidak boleh keluar rumah.

Berpuluh-puluh tahun lalu, Mbah Usup memiliki seorang anak perempuan berambut ikal yang wajahnya sangat cantik. Setiap sore sampai menjelang maghrib ia selalu bermain petak umper bersama teman-teman sebayanya di lapangan dekat kuburan. Pada suatu hari mereka bermain petak umpet, dan ketika seharusnya permainan itu sudah berakhir, anak Mbah Usup tidak pulang ke rumah. Lalu gegerlah seluruh kampung. Semua orang dewasa, laki-perempuan, ikut mencari anak perempuan Mbah Usup itu sampai ke seluruh kampung. Tapi tidak ketemu, tidak pernah ketemu. Sampai sekarang.

***


"PAK, aku ingin pintar mengaji. Agar besok aku bisa mengajari bapak mengaji. Bapak 'kan tidak bisa mengaji", kata Al anak sulungku tiba-tiba membuyarkan segala lamunanku.

Sesal Kemudian Tiada Berguna

Tadi sore selepas pulang madrasah, Zaafa dan Aleyya mainan sepeda di dalam rumah, karena di luar hujan. Selang beberapa lama kemudian terjadi sebuah insiden yang mengakibatkan Aleyya menangis.


Karena kepala pusing sehabis kerja tadi belum juga reda, ditambah capek yang menggunung dan kantuk yang tak tertahankan membuat emosi saya sedikit naik. Lalu saya hukum Zaafa tidak boleh naik sepeda lagi dengan cara saya kempesi ban belakang sepedanya.

Kemudian saya tinggal tidur, dan Aleyya nonton tivi di kamar, sementara Zaafa merajuk ditemani neneknya.

Tiga puluh menit kemudian Zaafa datang dan meminta maaf, bersalaman, kepada saya juga Aleyya. Dan Zaafa kemudian bilang, "Pah, ban depan juga sudah saya kempesi." Saya diam.

Lama-lama kemudian saya mikir, kalau hukuman sudah selesai dan Zaafa boleh naik sepeda lagi, yang bakal repot 'kan saya juga, ngapain tadi ban saya kempesi?

Jan 3, 2024

PERIHAL 2023




Generated by Bing AI


Tahun 2023 sudah berakhir, sekarang sudah memasuki 2024. Apakah ada halhal yang harus dilupakan, atau mungkin patut untuk diabadikan?

1. Membaca

Sepanjang 2023 tidak lagi sering membeli buku yang pada akhirnya hanya menumpuk untuk menunggu dibaca entah kapan sempatnya, tetapi kuputuskan untuk mulai membaca bukubuku yang ada, yang sudah dibeli, yang baru dibaca sebagian harus diselesaikan atau membaca dari awal bukubuku yang lain. Entah itu novel, kumpulan cerita, puisi atau topiktopik lainnya, termasuk majalah tentunya.


2. Menulis

Jika di 2022 aku menulis sekitar 15 judul puisi, di 2023 ini aku menulis 30an judul puisi. Terhitung masih sedikit, tapi lumayanlah masih bisa menuangkan keresahan pikiran tentang segala sesuatu melalui media puisi di tengah keriuhan kehidupan berumah tangga dan pekerjaan seharihari. Ohya, di tahun 2023 ini juga ikut terlibat di Antologi Puisi Membaca Jepara 9.

Selain itu juga memposting tulisan di blog yang cukup lama tidak aktif. Bukan apaapa, hanya sekadar berbagi cerita saja dari sudut pandang dan opini diriku sendiri. Pada 2023 ada sekitar 15 postingan di blog, sementara tahun sebelumnya hanya ada 1 postingan. Sebuah perbandingan yang sungguh njomplang.

Aku juga mulai lagi mengirimkan naskah puisi ke media online, walaupun belum ada yang nembus untuk ditayangkan . Tapi akan terus mencoba.


3. Musik

Aku sudah mulai mencoba untuk menahan diri dari godaan mata agar tidak terbujuk untuk membeli kaset pita lagi, rasanya koleksi yang ada sudah cukup banyak, yang bahkan jarang diputar. Kaset yang sering diputar juga berkisar pada yang ituitu saja. 

Sepertinya selera musikku stuck di musikmusik tahun 1970an, 1980an dan 1990an. Walaupun mungkin ada yang baru, tapi biasanya yang menyanyikan band atau penyanyi lama juga.

Di tahun 2023 ini juga mulai ngeband lagi, walaupun hanya sekadar untuk mengobati kerinduan akan suasana di dalam studio musik yang pernah diakrabi 20 tahun yang lalu, sewaktu masih suka ngeband dengan temanteman setongkrongan. 

Walaupun sudah agak grothalgrathul nggenjreng gitar karena lama gak latihan, apalagi jika harus ngulik melodi gitarnya, dijamin pusing entah berapa keliling. Dan lagulagu yang dimainkan juga kebanyakan lagulagu lama, walaupun sudah masuk di era tahun 2000an.


4. Thrifting

Kesukaan ngethrift alias awulawul kembali memanas. Sering menyambangi tokotoko barang thrift baik di media sosial maupun marketplace, juga dolan di lapak thriftingan yang ada di kota ini. Mencari celana panjang, celana pendek atau baju dan jaket. 

Pertama beli satu, eh lamalama jadi menumpuk gak terhitung lagi berapa jumlahnya. 


5. Kopi

Jika di tahuntahun sebelumnya lumayan sering nongkrong di kedai kopi dengan menikmati kopi filteran, di 2023 ini jarang sekali nongkrong. Apalagi teman yang biasanya menemani nongkrong sudah sibuk dengan kerjaannya, ditambah kedai kopi di dekat rumah malah tutup. Ya sudah, ngopi tetap jalan walaupun sachetan. Kopi filter? Jarangjarang.


6. Halhal lain

Beberapa hal lain:

a. Ngevape, karena penasaran aja sebenarnya, karena kupikir aneh ketika aku merokok tapi kok rasanya buahbuahan. Malah seperti lagi minum jus.

b. Menjadi affiliator marketplace, walaupun belum nampak hasilnya.

c. Menjadi kontributor survey online.

d. Mencoba untuk lebih maknani dan migunani tumraping liyan.

e. Tak sengaja menjadi panitia lomba 17an.

f. Menjadi pejuang giveaway.


Sekian.

Dec 6, 2023

Nrimo ing Pandum

from: bing image creator

Nek jare D'massive "Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah."

Yakinlah apa yang kita terima adalah yang terbaik menurutNya.

Jare Dewa, "Relakanlah saja ini bahwa semua yang terbaik."

Aku kelingan jaman ijek kuliah kae nate jagong karo kenalan cewek sing ora seagama ro aku, tapi aku lali jagonge kuwi melalui telepon apa chatting.

Deweke cerita nek sebagai non muslim, deweke nglakoni ibadah sebagai ungkapan rasa terima kasih karena untuk kehidupan di akhiratnya sudah dijamin, bukan karena mengharap mendapat imbalan atau apa.

Beberapa tahun sakwise jagongan kuwi, Ahmad Dhani gawe lagu karo almarhum Chrisye sing ning lirik lagune muni kaya ngene, "Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepadaNya?"

Rahman RahimNya itu luas tidak berbatas, sudah sepatutnya jika ucapan syukur dan terima kasih selalu dipanjatkan padaNya. Bukan karena pamrih agar nikmatNya ditambah, tetapi sebagai wujud cinta padaNya.

Semoga kita semua terhindar dari menjadi umat yang penuh pamrih dan perhitungan terhadapNya.

\m/

Aug 18, 2023

Fun Games Tujuhbelasan: Guyonan dadi Tenanan


Selasa pagi, saya lihat Fala sibuk memotong-motong stiker bendera merah putih ukuran kecil-kecil, lalu kutanya untuk apa. "Untuk tujuhbelasan di kampung saya, " katanya. 

Lembar stiker bendera merah putih yang belum dipotong dan beberapa hasil potongan kemudian saya foto, lalu saya posting di WAG, dengan menyebut nama seorang teman secara iseng dan kutulis pesan "Apakah gak mau nyawer untuk hadiah lomba tujuhbelasan?". 

Gak ada respon. Baik dari teman yang  namanya saya sebut, maupun dari anggota WAG yang lain. 

Selasa siang, saya dan beberapa orang teman sedang makan Mi Ayam, dan karena handphone selalu dalam posisi silent saya tidak tahu kalau ada seseorang yang memanggil. Saya baru tahu ketika ngecek notifikasi handphone dalam perjalanan pulang dari warung. 

Sesampai di tempat gawe, segera saya mencari orang yang tadi menelpon dengan maksud menanyakan ada perlu apa. Karena orangnya tidak di tempat, saya coba saja untuk mengirim pesan. Ternyata dia menanyakan, "Bagaimana konsep lomba untuk tujuhbelasannya?".

Wasyem!! Kaget!! Ternyata postingan guyonan di WAG tadi itu dapat sambutan oleh anggota WAG, hanya mereka tidak langsung merespon. Segera saya kontak Fala, Akrom, Dayat, Amel, Chandra dan beberapa orang lagi untuk coba berembug soal konsep acara lomba tujuhbelasan. 

Dalam sekejap jadilah konsep acara yang kami namakan Fun Games Tujuhbelasan, yaitu lomba-lomba dalam rangka memeriahkan acara HUT RI ke 78 dengan peserta sebatas karyawan di tempat gawe yang masih berusia muda dengan memperlombakan estafet kelereng, joget balon, memasukan pensil ke dalam botol, estafet sarung dan makan kerupuk dengan mata tertutup. Kami bahkan tidak memikirkan apa hadiahnya buat para pemenang nantinya. 

Lalu konsep itu saya kirimkan ke teman yang tadi menanyakan. Dan tidak ada respon atau tanggapan. Hanya dibaca saja. Walaupun demikian saya kontak Akrom agar tetap mempersiapkan acara itu, lepas ada dukungan dari pihak kantor atau tidak. 

***
  

Rabu pagi. Setiba di tempat gawe nampak ada beberapa teman-teman nongkrong karena memang jam kerja belum mulai. Fathur nyeletuk ngomong, "Pak, lombanya jadi serius!". 

"Kok bisa?", tanyaku.
"Iya, ini kami mau acara umbah-umbah.", kata Fathur. 
"Bukannya memang sudah rutin ya, umbah-umbah", kataku. 
"Iya, tapi ini diinfo kalau yang dibahas di acara umbah-umbah ini salah satunya adalah pelaksanaan lomba-lomba.", lanjut Fathur lagi. 

Kaget dong saya, gak nyangka aja kalau responnya begini. 

Kemudian saya masuk ke ruangan kerja, ketemu Koordinator langsung ditodong dengan perintah, "Gimana konsepmu untuk perlombaan besok?! Coba rumuskan.".

Kaget saya hanya bisa nyengir. Karena apa? Karena sebenarnya acara itu konsepnya masih belum matang sama sekali. Masih asal-asalan. Belum terpikirkan bagaimana teknis pelaksanaan, teknis penjurian dan lain-lain. Terus terang masih nge-blank. 

Setelah umbah-umbah selesai ada usul kalau sebaiknya lomba diadakan antar bidang. Langsung saya kontak Fala, Chandra, Amel, Yuni dan Akrom untuk mematangkan konsep Fun Games Tujuhbelasan dengan membuat flyer juga teknis pelaksanaan lomba-lomba yang tentunya masih dalam kadar yang sederhana dan seadanya.

Kami lalu berembug untuk menginventarisir dan mendata apa saja yang perlu disiapkan. Akrom berpendapat kalau sebaiknya kita memaksimalkan apa yang ada tanpa terlalu banyak mengeluarkan banyak biaya. Kelereng akan menggunakan kelereng milik anak saya atau punya saudaranya Fala, sendok menggunakan sisa sendok dari Kedai Sate Taichan (warungnya sudah tutup) milik Chandra, sarung menggunakan punya Akrom dan Chandra, botol menggunakan botol-botol bekas air minum di sekitar kantor, pensil akan menggunakan pensil-pensil yang diperoleh dari acara sosialisasi/rapat yang pernah saya ikuti. Yang perlu dibeli hanya balon dan kerupuk. Panitia? Tidak dibentuk secara resmi. 

***
 

Kamis pagi, setelah upacara. Akrom dan beberapa teman menyiapkan tempat pelaksanaan Fun Games Tujuhbelasan. Masing-masing bidang sudah menyiapkan daftar peserta. 

Tibalah waktu pelaksanaan Fun Games. Saya dan teman-teman yang mengkonsep acara secara iseng begitu kaget dan haru melihat respon dari teman-teman bidang yang ikut memeriahkan acara ini. Gak nyangka kalau responnya sedemikian. Ada yang membawa bendera, membawa ikat kepala merah putih, membawa stiker dan lain-lain. 

Secara umum, Fun Games Tujuhbelasan berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir, walaupun ada beberapa insiden yang mewarnainya. Misal sempat ada protes dari salah satu peserta karena ada yang mengubah teknis lomba secara mendadak, kemudian ada yang terjatuh dan cedera sehingga tidak bisa melanjutkan lomba. Tapi, dengan segala keterbatasan yang ada kami patut berbangga. Bahkan ada usulan semoga kegiatan seperti ini diselenggarakan lagi pada tahun-tahun berikutnya, mengingat bahwa sebelumnya belum pernah ada lomba-lomba tujuh belasan di internal kantor ini. 

Akhirnya, terima kasih tak terhingga untuk teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dan ikut memeriahkan Fun Games Tujuhbelasan ini, dan mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala kekurangan dalam pelaksanaan Fun Games Tujuhbelasan. Semoga nantinya akan menjadi lebih baik dan lebih meriah lagi. Suwun.

***

Aug 4, 2023

Menulis Agar Tidak Lupa



Kilas

Perkenalan dengan dunia tulis menulis bermula ketika masih Sekolah Menengah Pertama, dengan mengirimkan sebuah puisi untuk ditempelkan di Majalah Dinding Perpustakaan Sekolah. Puisi berjudul "Dapur Penuh Racun" berisi sebuah sindiran untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi saya sudah lupa bagaimana detail kata-katanya. Maklum saja, karena pada waktu itu saya masih belum punya pikiran untuk mendokumentasikan hasil tulisan tersebut.

Itu adalah puisi yang saya tulis pertama kali, setelah itu saya tidak ingat apakah menulis puisi lagi apa tidak. Tapi kalau soal berinteraksi dengan buku, saya masih terkoneksi karena pada waktu itu selain menjadi anggota perpusatakaan sekolah, saya juga menjadi anggota Perpustakaan Keliling Kabupaten Rembang yang tiap hari Selasa dan Kamis mampir ke Desa kami, tepatnya di halaman Kantor Kecamatan.

Bersama teman-teman sekampung saya sering meminjam buku-buku kumpulan cerita pendek atau novel. Yang masih saya ingat adalah saya pernah dimarahi Bapak karena meminjam buku karya Achdiat Karta Mihardja yang berjudul "Atheis" dan buku berjudul "Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma" karya Idrus. Kata Bapak,"Untuk apa kamu baca buku itu? Bisa keblinger kamu." 

Seumuran segitu saya tidak punya pembelaan apapun, kecuali menuruti perintah Bapak untuk mengembalikan buku pada kunjungan mobil Perpustakaan Keliling hari berikutnya. Di kemudian hari, saya tetap secara sembunyi-sembunyi meminjam buku bacaan dari Perpustakaan.

Sewaktu  menginjak Sekolah Menengah Atas saya mengenal puisi Emha Ainun dari sobekan kertas milik seorang teman sekampung yang juga hobi menulis dan membaca. Tapi praktis pada waktu saya SMA saya tidak pernah lagi menulis, tapi kalau soal kesenangan membaca masih terus berlanjut bahkan sampai sekarang.

Gairah menulis saya kembali muncul sewaktu saya kuliah di Stipfarming Semarang, jurusan Farming (Pertanian), di mana pada saat itu saya ikut berkegiatan di Lembaga Pers Kampus. Saya menulis di majalah dinding kampus berupa puisi maupun karikatur berisi kritikan kepada pihak kampus.

Tulisan-tulisan saya mungkin banyak terpengaruh dari buku-buku yang saya baca. Karena selain rutinitas kuliah, saya juga mempunyai jadwal kunjungan rutin ke toko buku di pusat kota Semarang juga Perpustakaan Daerah. Dari mulai Chairil Anwar, Sutardji Chalzoum Bachri, Joko Pinurbo sampai R Tagore dan penyair dari Libanon Kahlil Gibran. 

Hampir setiap hari saya menulis puisi, dalam hal apapun. Meski yang terbanyak adalah puisi tentang asmara, ya, asmara yang tak kesampaian. Seperti kisah kebanyakan, orang yang lagi jatuh cinta secara tiba-tiba akan menjadi sosok yang puitis sehingga mampu menghasilkan bait-bait yang melankolis. 

Semua tulisan itu hanya saya simpan sendiri, tidak pernah saya publikasikan atau pamerkan kepada orang lain. Saya baru mulai memperkenalkan puisi-puisi saya setelah ada internet. 

Melalui internet saya mulai menjelajah lebih luas lagi. Menulis puisi di status-status Friendster, kemudian ikut menjadi anggota komunitas menulis online seperti Komunitas Bunga Matahari, ikut mengirim puisi ke portal puisi semacam Fordisastra, Cybersastra, dll. 

Tahun 2006 saya pindah ke Jepara untuk bekerja.  Perpindahan ini membuat cakrawala perkenalan saya menjadi bertambah, saya menjadi kenal dengan  para pegiat sastra di Jepara seperti Ramatyan Sarjono, Aminan Basyarie, Asyari Muhammad, Winahyu Winastuti, Alie Emje, dan beberapa nama lain. Saya juga ikut  diajak terlibat dalam beberapa komunitas sastra dan budaya, seperti Samudra (Sastra Muda Jepara), selain saya masih mengelola grup Aliansi Penyair Timur di sebuah platform media sosial bersama beberapa teman pegiat sastra dari berbagai kota.

Secara onlen maupun oflen masih sering menjalin komunikasi dengan teman-teman di Rembang, melalui ajang pentas kesenian yang digelar setiap sebulan sekali mengambil tempat di bekas Stasiun Kota Rembang dalam kegiatan yang diberi nama Kethek Ogleng Baca Puisi. 

Kegiatan-kegiatan tersebut terus menambah dan menumbuhkan kecintaan juga memperluas dan memperkaya wawasan, ide dan hal-hal dalam lingkup kesenian, sastra dan budaya.

Selain itu saya mulai banyak terlibat dalam berbagai antologi puisi bersama beberapa teman penyair dari luar daerah. Bersama Sosiawan Leak melalui antologi Puisi Menolak Korupsi, bersama Samudra dengan menerbitkan antologi puisi Bintang Kata, bersama Didid Endro ikut terlibat dalam antologi puisi Membaca Jepara.


Bagaimana dan Mengapa.

Bagaimana bisa menjadi sebuah puisi? Adalah momen yang saya temukan, entah ketika sedang melakukan perjalanan, sedang membaca buku, atau sedang menonton film. Begitu ada momen yang merangsang imaji saya, seketika langsung berhenti dari aktivitas yang saya lakukan pada saat itu. 

Pernah suatu ketika dalam perjalanan pulang dari rumah orang tua di Rembang menuju ke tempat domisili saya di Jepara, ketika sampai di daerah Pati sewaktu melewati hamparan lahan pertanian yang membuat saya spontan menyalakan aplikasi perekam suara di telepon genggam, lalu saya rekam kata-kata yang tercipta pada saat momen itu.


KEPADA HUTAN DAN GUNUNG, DI TEMPAT AKU KECIL DULU

aku tak akan mengutuk sumpahi
orangorang yang dengan murka menghabisi
hanya, setelah kau pergi
tiada lagi tempat untukku tersesat dan sembunyi

(2011)

Di waktu yang lain, ketika saya sedang membaca buku entah itu prosa atau puisi, ada momen ketika apa yang saya baca itu membuat saya merasa ada semacam pemantik kepada diri saya untuk segera membuat tulisan. Segera saja saya hentikan kegiatan membaca tersebut, kemudian saya ambil pulpen dan kertas lalu asyik menulis meninggalkan buku terbuka yang baru separuh baca.


SELALU KUCARICARI NAMAMU

selalu kucaricari nama-mu:
di antara barisbaris kata dalam kuburan puisi
di antara deretderet nada dalam pusara nyanyian
di antara lembarlembar halaman kalender yang tergeletak di tempat sampah
di antara helaihelai kerutan pada wajah orang yang kutemui sepanjang jalan
tapi, tak juga kutemukan nama-mu

ada di manakah engkau sebenarnya?
ataukah aku yang telah salah mengeja?

(2011)

Oh ya, saya juga suka mengunjungi pameran lukisan yang digelar di galeri-galeri ataupun hanya diadakan di sebuah acara pameran yang biasanya dihelat oleh Pemerintah Daerah. Ketika saya melihat lukisan yang dipamerkan, dan jika kebetulan ada lukisan yang membuat saya tertarik bisa dengan seketika akan muncul deretan kata-kata berupa bait-bait yang harus saya rekam sebelum menghilang. Untuk itulah handphone tidak pernah lupa saya bawa, sebagai alat untuk menulis dan mencatat apa yang ada di kepala saya.

Namun ada kalanya saya juga tidak memiliki gairah sama sekali untuk menulis, walaupun sudah dipaksa untuk menulis sebaris dua baris puisi, kemudian terpaksa saya hapus lagi karena saya tidak menemukan apa yang ingin saya sampaikan melalui tulisan tadi.

Menulis Agar Tidak Lupa, adalah semacam pembelaan diri ketika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang ketertarikan saya pada aktivitas menulis. Entah darimana saya mendapatkan kalimat tersebut pertama kali, sudah lupa.

Catat-Mencatat-Catatan, hampir setiap waktu saya berkutat dengan tiga hal tersebut. Setiap kali melakukan perjalanan atau bahkan pada saat berdiam diri, selalu saja ada yang mendesak-meminta untuk dituangkan dalam tulisan, entah nanti akan berakhir menjadi puisi atau bahkan tetap menjadi sebuah catatan yang tak berbentuk apa-apa.

Seorang teman pernah menjuluki saya sebagai ”lelaki yang tak henti menandai”, saya tidak menyangkalnya. Sebab sedikit banyak hal itu memang demikian adanya. Saya suka mengabadikan segala sesuatu yang menarik perhatian saya, baik melalui kamera maupun tulisan sebagai proses mencatat dan menandai yang sampai saat ini masih terus saya lakukan.

Secara formal saya tidak pernah belajar sastra maupun masalah penulisan, saya belajar dari apa yang saya baca juga dengan orang-orang dimana saya berinteraksi dengannya. Hal ini membuat saya tidak terlalu terpaku pada kaidah-kaidah penulisan, sehingga saya tidak begitu memusingkan akan menjadi apa dan bagaimana bentuk hasil tulisan saya. 

Pernah, saya berinteraksi dengan sastrawan senior Abdul Kohar Ibrahim melalui aplikasi perpesanan di facebook tentang plagiasi dan keterpengaruhan dari penyair-penyair yang sudah lebih dulu ada. Melalui media telepon juga pernah diskusi kecil mengenai proses kreatif di dunia sastra, bahkan saya pernah sampai dikatakan sebagai “orang bebal dan bodoh” oleh salah seorang penyair senior karena sewaktu ditanya 'Apakah kamu seorang Penyair?' saya jawab "50%".

Tapi itu tidak membuat saya menciut dan berhenti menulis. Saya tetap saja menulis. Tak peduli apapun hasil dari tanda yang berupa jejak tersebut. "Baik buruknya terserah mereka saja. Siapapun berhak menilai tapi aku juga bebas menentukan bahasa", jawab saya ketika seorang teman bertanya kenapa saya masih saja menulis dan mencatat.


CELOTEH SI GILA

jamur telah lama mengotori dinding, membuat gambar serupa lukisan kisah manusia. orangorang yang terlahir tanpa sengaja, terusir dari tempat yang seharusnya. masih saja pembicaraan di koran dan televisi, didominasi persoalan kasta dan etika. apakah kita datang dengan berkat di tangan? entah, terima saja nasib buruk yang segera akan datang.

tuhan, tuhan, tuhan, kenapa kau tinggalkan aku? selalu aku bertanya kepada  orangorang suci, apakah ada tempat di surga buatku kelak, saat telah kukorbankan kemaluanku untuk melahirkan anakanak, yang setelah dewasa nanti mereka akan saling menikam mati. baratayudha. tak ada perdamaian abadi, sebagaimana pula tak ada teman yang abadi. hanya derita kekal selamanya.

jangan percaya padaku. aku hanya orang gila yang meneropong dunia. jika mencari aku, tanyakan pada hatimu, adakah diriku di situ. ah, mulai ngawur bicaraku. lantas kenapa kau masih saja menyimak ucapanku? pergilah, dan abaikan aku. o dunia yang malang. maaf aku telah meninggalkanmu sekarat sendirian.

perjalanan yang harus di tempuh, dalam berbagai ukuran, panjang atau singkat. bagaimana dengan akhirnya kelak? apakah mesti juga kita yang pikirkan? o hidup o jiwa o pencipta. tugasku hanya menjalani. apapun nanti yang akan terjadi, terjadilah. sudah.

(2010)

Seperti judul puisi di atas, mungkin saya hanyalah si gila yang suka ngomong apa saja, suka seenaknya sendiri dalam memaknai dan mencatat hal-hal yang saya lewati dalam perjalanan hidup menuju keabadian. Entah itu hal-hal besar atau bahkan hal-hal remeh yang mungkin tidak ada artinya bagi orang lain, tapi begitu berarti bagi diri saya. Terutama dalam hal pembentukan diri dan penerimaan terhadap segala apa yang terjadi di perjalanan kehidupan saya.


*) Tulisan ini dimuat dalam buku "Menanam Kata Menuai Asa: Esai Proses Kreatif", Balai Bahasa Jawa Tengah, 2020.

Jul 11, 2023

Telur, Telur dan Telur

by aiusage


Soal makan memakan saya punya cerita sewaktu masih kecil. Dulu saya susah sekali kalau disuruh untuk makan. Harus dipaksa berulang kali sampai mau makan dan menghabiskannya, walau dengan terpaksa. Kadang dengan ancaman, "kalo makannya gak habis, ayamnya mati lho!".


Jika pada waktu makan itu tidak ditunggui Bapak atau Ibu, biasanya langsung saja saya buang nasinya. Kalau tidak ke kolong meja atau dipan, ya saya buang ke luar jendela. Jangan tanya kalau ketahuan, sudah pasti akan dimarahi dan diomeli oleh Bapak dan Ibu.


Karena Ibu juga harus bekerja, jadi menu sarapan pagi yang paling mudah adalah nasi ditambah telur mata sapi ples kecap. Kadang juga tempe goreng, atau telur dadar. Yang pasti jenisnya 'garingan'.


Pada saat kuliah, saya tinggal bersama Kakek dan Nenek di Semarang. Di sini saya bertemu dengan telur lagi, tapi kali ini telur dadar. Hampir tiap hari lauknya telur dadar dan sambal, kadang diselingi tahu goreng atau tempe goreng. Dan hampir bisa dipastikan juga semi-semi 'garingan'.


Ketika sudah lulus kuliah dan mulai bekerja, saya numpang di rumah Pakdhe, kakak dari Bapak. Namanya numpang ya harus menerima saja apa yang ada, termasuk soal makan. Mungkin sudah takdir saya harus bersua dengan telur dan berbagai variannya.


Di rumah Pakdhe, saya juga hampir tiap hari ketemu dengan telur di pagi hari, ditambah sambal tanpa diuleg alias lomboknya diblender. Praktis memang, tapi rasanya hambar beda dengan sambal hasil ulegan tangan. Entah, itu mungkin hanya perasaan saya saja.


***


Kalau waktu kecil saya sering malas dan susah kalau disuruh makan, tapi setelah besar saya malah seperti penampungan. Kalau ada makanan yang masih sisa adalah bagian saya untuk menampung dan mengolahnya sampai habis tidak tersisa. 


Misal Ibu lagi masak nasi goreng, Ibu akan menyediakan beberapa piring untuk diisi dengan nasi goreng untuk jatah Bapak, adik dan keluarga yang lain. Mana jatah saya? Sisa masakan yang masih ada di penggorengan! 


:)

Jul 4, 2023

Sedekah Bumi Bandungrejo 2023


Selasa 4 Juli 2023 di Desa Bandungrejo ada suatu keramaian yang berpusat di Balai Desa, yaitu acara Sedekah Bumi Desa Bandungrejo 2023. 

Rangkaian acara yang dilaksanakan mulai pagi hari yaitu dengan melakukan Khotmil Qur'an (Khataman Qur'an), kemudian di siang harinya ada kirab gunungan tumpeng yang disusun dari berbagai hasil bumi dilanjutkan Selamatan bersama Tokoh Masyarakat, dan di malam harinya ada pementasan ketoprak dari Kelompok Ketoprak Siswo Budoyo. 

Acara ini adalah sebagai bentuk rasa syukur warga desa kepada Allah Yang Maha Esa atas segala limpahan kasih sayang yang diberikan di segenap wilayah Desa Bandungrejo maupun kepada orang-per-orang warga desa, baik berupa hasil pertanian, perdagangan, maupun tiadanya bencana yang melanda desa ini. 

Sebulan sebelum acara Sedekah Bumi dilaksanakan para pedagang maupun pengusaha mainan sudah membooking tempat-tempat yang sekiranya akan dapat digunakan untuk "mremo" pada saat acara berlangsung. Mereka menandai tempat yang mereka pilih dengan cara memasang tanda berupa tali yang dipasang membatasi tempat yang diincarnya agar tidak diduduki oleh orang lain. 

Diperkirakan akan hadir banyak pengunjung untuk menonton pagelaran ketoprak, mengingat jika pada acara Sedekah Bumi tahun-tahun sebelumnya selalu diisi dengan pertunjukan wayang kulit, namun kali ini berbeda yaitu pementasan ketoprak. 

*** 


Selepas maghrib warga masyarakat mulai tumpah ruah di sepanjang jalan yang melintasi kantor Balai Desa, para pedagang maupun penyedia area bermain untuk anak-anak sudah berderet siap melayani semua yang hadir. Keadaan mulai riuh. Baik oleh warga yang tinggal di Bandungrejo maupun dari luar desa.

Pada pukul 9 malam pentas ketoprak yang memilih cerita dari serial  Anglingdarma dengan lakon Alap-alapan Putri Bisu dimulai, dan seperti diperkirakan sebelumnya animo masyarakat untuk menyaksikan sangat bagus sehingga yang hadir untuk menonton jumlahnya banyak, sehingga karena keterbatasan tempat disediakan pula 2 layar raksasa bagi mereka yang tidak mendapat tempat untuk menonton dari depan panggung.

Petinggi dalam pembukaan pagelaran ketoprak dimulai berharap semoga desa ini selalu dalam keadaan gemah ripah loh jinawi, dijauhkan dari segala bala bencana, dan selalu guyub rukun antar warga.

Seperti pepatah ada gula ada semut, ada suatu keramaian sudah tentu akan ada imbas atau efek yang terjadi.  Efek positifnya, terjadi transaksi ekonomi jual beli barang dan jasa di sekitar lokasi acara. Buruknya, sudah tentu masalah sampah bekas makanan dan minuman yang berserakan. 



Jul 2, 2023

Cerita Dari Kamar Rumah Sakit

Di depan rumah Mbah Kakung di Ungaran dulu ada beberapa pohon kopi, yang tiap kali liburan ke sana aku seringkali nangkring di atas pohon tersebut bermain bersama anak tetangga yang seumuran sambil sesekali nglethusi buah kopi yang sudah masak berwarna merah, nyesep manis getahnya.


Setelah pohon kopi ditebang, diganti dengan pohon rambutan. Soal pohon rambutan ini, ada ceritanya.


Suatu hari, Bulik mau balik ke Brebes, oleh mbah rencananya akan dibawain rambutan. Aku yang kebagian ngunduh bareng Om. Kebetulan hari itu habis hujan jadi agak licin pohonnya.


Sewaktu memanjat, karena licin maka tangganya tergelincir. Dan akibatnya aku terjatuh, temangsang di dahan pohon. Tangan luka terkena asbes yang disandarkan di dekat pohon.


Dua hari setelah jatuh dari pohon rambutan badanku terasa demam dan pusing. Kukira itu hanya karena kaget sebab terjatuh dari pohon. Tapi sudah diminumi obat pereda demam dan pusing dari toko masih tidak mempan. Masih terasa demam dan pusing, malah makin hebat.


Karena merasa tidak betah menahan demam dan pusing di kepala yang makin menjadi, aku minta diantar sama Om untuk periksa dokter. Setelah diperiksa dokter keluarlah diagnosanya: antara typus atau demam berdarah. Awalnya langsung disuruh untuk nginep di Rumah Sakit. Tapi aku gak mau.


Aku bilang sama Mbah Yayi, "Aku mau diopname kalo malamnya nanti aku muntah darah."


Tapi karena gak betah menahan sakit, walau gak muntah darah, pagi-pagi aku diantar Om dan Bulik ke Rumah Sakit, RSU Ungaran. Hingga sampailah di UGD, kemudian diinfus dan langsung terasa ringan ini kepala.


Sewaktu mondok di Rumah Sakit, sempat empat kali pindah ruangan. Pertama di UGD, kemudian di ruangan yang menampung kurang lebih 12 orang pasien, lalu kamar untuk 2 orang pasien, dan yang terakhir baru di kamar untuk 1 orang pasien di kamar Rajawali (kalau gak salah).


***


Cerita dari Kamar


Di sebuah ruangan yang berisi lebih dari 10 orang pasien.

Bulik: "Piye, arep madhang apa?" 

Aku: "Mi goreng wae." 

Bulik: "Ok, tunggu dhelok." 

Setelah beberapa menit,

Bulik: "Nyoh." 

Aku: "Ok, maturnuwun. Eh, tulung tumbaske pisang." 

Bulik: "Enak men kongkon. :)" 

Aku: "Lha kapan neh ngakon Bulik-bulik nek ra pas ko ngene. Hehehe." 

Bulik: "O cah edan!!"


Setelah pindah ke ruangan yang berisi 2 orang pasien. 

Padma: "Mas, kowe mesti isin to, opname ning kene." 

Aku: "He'e." 

Padma: "Soale kowe kan sering ngece nek ana wong lara. Jaremu, 'wes gedhe kok lara!?'" 

Aku: "Hehehehe."


***



Jul 1, 2023

Festival Oncor Kalinyamatan 2023

Pamflet Acara

Kedatangan Hari Raya Idul Adha yang tiba pada hari Kamis tanggal 29 Juni 2023, disambut oleh masyarakat di Desa Bandungrejo Kec. Kalinyamatan Kab. Jepara dengan diadakannya sebuah acara yang dinamakan Festival Oncor Kalinyamatan, sebuah acara yang rutin dilaksanakan setiap malam takbiran menjelang datangnya Idul Adha. Festival Oncor Kalinyamatan 2023 diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Bandungrejo dengan IPNU-IPPNU Bandungrejo selaku panitia penyelenggara acaranya. 

Untuk Festival Oncor Tahun 2023 yang mengambil tema "Melestarikan Budaya Lokal yang Bernuansa Islami" ini diikuti oleh kurang lebih sebanyak 500 orang dari 17 Dukuh yang ada di Bandungrejo, yang semuanya dilakukan secara swadaya dan swadana serta bentuk kegotong royongan warga. Berbagai kreasi bermunculan, mengingat dalam acara ini juga dilakukan penilaian oleh Juri untuk dipilih siapa nanti yang menjadi pemenangnya.

Acara dikemas dalam bentuk karnaval yang diikuti oleh seluruh peserta dengan berbagai atraksi maupun kostum yang ditampilkan. Mayoritas peserta menampilkan replika mushola atau masjid sesuai yang ada di Dukuh masing-masing, replika hewan-hewan yang umum dijadikan sebagai kurban (kerbau, sapi, kambing maupun onta), dan juga ada yang menyelipkan pesan moral dalam barisannya. Misal, ada yang menyampaikan pesan tentang bahayanya judi slot, atau teatrikal tentang azab orang yang suka berbuat jahat kepada tetangganya, dan masih banyak lainnya.

Teatrikal dari Dukuh Gintungan

Festival Oncor dimaksudkan sebagai salah satu sarana untuk syiar Islam ke seluruh lapisan masyarakat warga Bandungrejo maupun masyarakat umum dari luar Bandungrejo yang hadir menyaksikan festival tersebut, karena tidak bisa dipungkiri bahwa Festival Oncor ini sudah menjadi salah satu atraksi budaya bermuatan kearifan lokal bernafaskan Islam yang juga menjadi tujuan wisata atau hiburan bagi khalayak luas.

Selain hadirnya ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat maupun domisili, imbas dari adanya Festival Oncor ini adalah geliat ekonomi yang turut terangkat dengan banyaknya pedagang makanan maupun minuman serta area permainan untuk anak-anak di sepanjang rute yang dilalui arak-arakan karnaval peserta Festival Oncor.

Secara umum acara terselenggara dengan baik dan lancar, tapi sebagaimana banyak gelaran acara yang melibatkan massa yang begitu besar adalah adanya banyak sampah bekas makanan maupun minuman ketika acara sudah selesai. Itu menjadi PR bagi kita semua, tentang betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya.




Jun 22, 2023

Pengalaman Mendaftarkan Sekolah

 

alur penerimaan siswa baru (ppdb.jepara.go.id)

Setelah sebelumnya hanya mendengar cerita dari teman-teman tentang betapa ribetnya pendaftaran sekolah, dari mulai mendaftar secara onlen, membuat dan mengaktifkan, menguplod dokumen, sampai harus memantengi website secara berkala untuk mengetahui berada di posisi berapa anak yang didaftarkan, berada di posisi aman atau rawan tergeser, sehingga harus memutuskan untuk bertahan atau mencabut berkas dan mencari alternatif sekolah lain.

"Daftar sekolah sekarang susah. Harus menthelengi website terus untuk mengetahui posisinya aman apa tidak.", kata salah seorang teman.

Dan akhirnya, pada tahun pelajaran kali ini saya mengalami rasanya melakukan pendaftaran sekolah untuk anak saya yang menginjak ke level SMP. Pilihan kali ini adalah di sebuah SMP Negeri yang dulu kakek-neneknya juga ibunya pernah menerima pembelajaran di situ.

Sebelum tiba waktunya, saya mencari informasi terlebih dahulu dari teman-teman baik yang pernah melakukan pendaftaran maupun teman-teman yang merupakan tenaga pendidik atau bekerja di sekolahan, saya gali informasi sedalam-dalamnya agar saya tidak panik, gugup dan sejenisnya.

***

Pendaftaran sekolah kali ini menggunakan 4 (empat) jalur pendaftaran, yaitu zonasi, afirmasi, perpindahan tugas orang tua dan prestasi, dengan masing-masing dari tiap jalur pendaftaran itu ada kriteria dan jumlah kuota yang sudah ditentukan oleh Dinas Pendidikan.

Sebelumnya saya berpikir untuk menggunakan jalur zonasi, karena dari pengetahuan saya yang awam saya menyadari bahwa anak saya tidak memiliki prestasi seperti yang saya bayangkan atau diinfokan dari orang-orang sekitar bahwa ketika memilih jalur prestasi harus memiliki prestasi dan mendapat predikat juara dari lomba-lomba yang pernah diikuti. Ternyata setelah saya korek info dari teman yang bekerja di salah satu sekolah, walaupun tidak memiliki prestasi dari lomba-lomba, jalur prestasi itu bisa ditempuh dengan menggunakan nilai ujian/ ijazah. Akhirnya saya putuskan untuk melakukan pendaftaran dengan menggunakan jalur prestasi.

"Saya berikan gambarannya supaya jelas. Ketika memilih jalur zonasi, misal pilihan 1 di SMP A pilihan 2 di SMP B. Berdasarkan hasil analisis dari sistem, jika tidak diterima di SMP A maka otomatis akan masuk ke SMP B. Makanya jika yang dituju adalah SMP A, mending gunakan jalur prestasi saja.", begitu kurang lebih penjelasan salah seorang teman.

Beberapa hari saya ikut memantau website pendaftaran sekolah untuk melihat ada di posisi berapa anak saya, sambil menganalisis kecil-kecilan jalannya sistem. Dan apa yang disampaikan oleh teman saya tadi ada benarnya, ketika ada nilai lebih tinggi yang daftar maka posisi terakhir atau nilai terendah akan langsung secara otomatis berpindah ke laman dari sekolahan pilihan ke 2 yang dituju.

Untuk memantau website pun sebenarnya tidak harus melulu memantengi daftar peringkat, cukup dengan melihat daftar nilai terendah yang ada di list peringkat pendaftaran sekolah tersebut sebenarnya sudah cukup untuk mengetahui posisi aman atau tidaknya peringkat anak saya.

***

"Kak, anakku sudah tidak ada di daftar peringkat. Bagaimana ini?", kata seorang teman yang mendaftar menggunakan jalur prestasi, tapi nama anaknya tidak lagi ada di daftar calon siswa yang berpotensi diterima baik di sekolah pilihan ke 1 maupun ke 2.

Kebetulan teman saya ini rumahnya berada di posisi tengah-tengah dengan jarak yang relatif cukup jauh dari semua sekolah negeri yang ada, kemudian prestasi anaknya juga berada di tengah-tengah (tidak terbaik, tidak terburuk), dengan kondisi ekonomi yang tengah-tengah juga. 

Saya hanya menghela nafas, sambil menjawab sedikit,"Ya, terpaksa mungkin harus ke sekolah swasta."

***

Tujuan dari Pemerintah dengan menggunakan 4 jalur pendaftaran sekolah tersebut (zonasi, afirmasi, perpindahan orang tua dan prestasi) adalah adanya pertimbangan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sehingga diharapkan masyarakat dapat memperoleh akses untuk memperoleh pendidikan secara mudah dan terjangkau. Tentunya ada pro dan kontra terkait penerapan mekanisme pendaftaran sekolah tersebut, yang tidak akan pernah habis bahkan sampai si anak nanti lulus dari sekolah. 

***



Jun 17, 2023

Orang dari Jauh

Ketika ada suatu peristiwa hadi di depan mata, saya suka memposisikan diri untuk berada di kejauhan. Lalu saya akan mengamati, memperhatikan, terkadang juga mengomentari dan menebak. Mengomentari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan, menebak apa yang seharusnya terjadi atau tidak terjadi. Lalu akan menyimpannya di bagian memori saya, yang mungkin suatu saat akan bermanfaat untuk saya panggil kembali ingatan itu.


Tidak semua orang senang berada di posisi yang saya sukai itu. Kebanyakan akan langsung berusaha untuk mendekat, menjadi dekat dan terlibat. Mungkin orang akan menganggap bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah bentuk ketidak pedulian saya, ketidak pekaan saya akan situasi di sekitar. Biarlah, hanya saya dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya. Dan saya merasa tidak perlu dan guna untuk mengoreksi apa yang orang lain pikirkan tentang saya.


Bahkan orang terdekat saya pun dengan jelas dan gamblang menyebut saya sebagai seorang "pengamat sosial yang anti sosial". Saya tidak membantah maupun tidak membenarkan.

by vectorstock

Saya jarang sekali menonton televisi, apalagi acara-acara yang berkaitan dengan gosip selebriti atau bahkan soal berita-berita viral yang bersliweran. Saya tidak begitu tertarik. Mungkin itu yang kadang membuat saya membatasi diri dalam hal njagong atau cangkruk, karena takut tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan. Tapi kalau ngobrol soal musik atau sepakbola masih sedikit-sedikit nyambung.


Bicara soal "anti sosial", saya jadi teringat dengan teman sekampung yang juga kebetulan satu angkatan dari SD sampai SMA, dia juga pernah menjuluki saya sebagai salah satu sosok yang "apatis".


Saya memang membatasi diri untuk tidak terlalu terlibat dengan hal-hal yang tidak saya kuasai dengan baik, saya tidak ingin melakukan blunder lalu menyebabkan gol bunuh diri yang akan membawa akibat yang fatal dan buruk terhadap saya juga orang lain.

Jun 13, 2023

Ora!Si Politik


bing images


Mari kita simak kisah Kang Senthun yang sedang berorasi politik di pemilihan ketua RW secara langsung, berikut ini:


Saudara-saudara, jika saya terpilih jadi ketua RW, saya akan jalankan program andalan "memasyarakatkan dangdut, mendangdutkan masyarakat"

Seperti kita tahu, dangdut banyak penggemarnya. Dari desa sampai di pelosok kota. Dari orang tua sampai balita. Dari yang miskin juga kaya.

Berbagai jenis lagu jika dibumbui dangdut bisa menjadi semakin syahdu. Pokoknya "dangdut is the music of my country", kalau kata Project Pop.

Dangdut bisa menjadi motor penggerak ekonomi kreatif masyarakat. Bagaimana mungkin?

Bisa kita lihat betapa semaraknya setiap konser dangdut, hampir bisa dipastikan bahwa penontonnya selalu penuh.

Berapa jumlah perputaran uang yang berlangsung pada waktu itu?

Dari transportasi, jasa parkir, tiket masuk, mercendais, kuliner, rokok, bahkan bisa jadi sektor penginapan juga akan terimbas

Maka dari itu, saudara-saudara, jika saya terpilih, akan saya ijinkan konser dangdut sepekan sekali, dengan mengundang artis-artis ibukota yang kondang.

Kemudian kita ekspos besar-besaran, diliput media oflen maupun onlen, sehingga komplek kita ini akan menjadi semakin tenar dan membahana.

Kalau perlu kita ciptakan rekor dunia, agar kelak anak cucu akan mengenang kebesaran komplek kita ini.

Sekian orasi dari saya, jangan lupa pilih saya. Ohya, amplop untuk saudara-saudara sekalian sudah saya titipkan pada koordinator masing-masing.

Kamsia. Terima kasih. Matur nuwun

Cerita Motor Mogok

Suatu hari, sepulang kerja ketika perjalanan sampai di daerah Bok Ijo Tahunan tiba-tiba motor ngadat. Mesin mendadak mati. Dugaan pertama adalah karena oli habis, karena memang sudah waktunya ganti oli, tapi selalu tertunda terus.

Segera motor kutuntun ke pinggir jalan. Kemudian kucoba nyalakan motor pakai stater pencet, gak bisa nyala. Kemudian motor kustandarkan ganda, lalu coba untuk kuogleng, gak bisa, karena oglengan ngunci. Fix, kesimpulannya harus nyari bengkel. 

Agak cemas dan ragu dapat bengkel, karena biasanya bengkel tutup sekitar jam 4 sore. Kemudian bertanya sama orang yang kebetulan ketemu di jalan, di mana ada bengkel terdekat. 

Selain bertanya kepada orang lain, kucoba kontak saudara dan teman yang rumahnya dekat-dekat daerah situ. Alhamdulillah, saudara ada yang lagi santai lalu berkabar akan datang menghampiri. 

Sambil menunggu kedatangannya, motor kutuntun pelan-pelan. Beberapa orang baik berhenti dan menanyakan kondisi motorku, lalu menawarkan bantuan apakah perlu didorong, kujawab "Terima kasih, ini sudah ada saudara yang mau datang ke sini. Sekali lagi terima kasih atas tawarannya."

Kemudian saudara datang, lalu mendorong motor ke bengkel yang masih buka. Sesampai di bengkel, motor dicek kondisinya dan diputuskan harus opname karena dicoba pertolongan pertama dengan mengisikan oli ke tangki masih saja motor tidak bisa nyala. 

Ok, motor harus nginap di bengkel. Kemudian saudara meminjami motornya untuk kubawa pulang. 



***

Terima kasih orang-orang baik senasib sepenanggungan di jalan.

Jun 11, 2023

Usaha Yang Gagal

Sejak dia lahir sebenarnya saya sudah berjuang untuk mengenalkannya dengan musik-musik macam Guns N Roses, Bon Jovi, Slank, Godbless atau paling tidak band-band seperti Sheila On 7 atau Gigi, dan band-band lainnya, ternyata dia malah lebih hapal sama lagunya Jimin (KPop).

Tapi sampai dia kelas 3, sepertinya usaha saya kurang berhasil. Apalagi di televisi tidak lagi ada acara yang memutar musik-musik semacam tadi. Akhirnya saya pengaruhi saja dia dengan musik yang lain yang juga saya sukai. 


Didi Kempot! Ya, meski saya belum tahu nanti bagaimana akhir dari usaha saya mengenalkannya pada beragam jenis musik, tapi setidaknya dia sudah mulai ikut mendengarkan, melihat dan rengeng-rengeng lagunya Lord Didi, walaupun mungkin terpaksa karena remote tivi saya cekethem gak boleh lepas. 🤣

***

Suatu hari di toko pakaian olahraga, berbagai macam kaos, jaket sampai mug dan gantungan kunci bergambar logo tim sepak bola dipajang, tiba-tiba Magdala nyeletuk.

"Pah, Milan, Pah!"

Lalu emaknya nyahut,

"Kamu hapalnya AC Milan doang!"

Langsung kusambung,

"Emang bener ya mas, sepak bola itu ya (AC) Milan", kataku kepada mas penjaga toko

Mohon doanya, saat ini sampai dengan nanti, saya sedang berjuang untuk meyakinkan anak saya bahwa satu-satunya klub sepakbola yang patut untuk dicintai adalah AC Milan. Bermacam pernik berbau Milan sudah pernah dan akan terus saya perkenalkan padanya, walaupun kemarin sempat ada statement darinya ketika saya ajak memakai jersey Milan, "Bagiku, klub juara hanyalah Manchester City!". Tapi saya tak akan menyerah.


***



Soal musik setidaknya ada titik cerah, dia sudah mulai mendengarkan Denny Caknan,  walaupun bersama si adik masih mendengarkan KPop juga, jika dibandingkan usaha saya membuat dia mencintai AC Milan yang bertepuk sebelah tangan, karena dia lebih  gandrung Erling Haaland. 


***

Apr 28, 2023

Kupatan: Ayo, Lihat Ngapain!

foto @Najih_HK

Di kampung saya di suatu daerah di pantai Utara Jawa Tengah setiap 7 hari setelah hari raya Idul Fitri ada hari raya lagi, namanya lebaran ketupat atau bakda kupat atau kupatan. 

Disebut kupatan karena pada hari itu hidangan yang disajikan di masing-masing rumah adalah ketupat (bukan nasi, seperti biasanya), dengan lauk berupa varian masakan dari ayam atau itik yang bisa berbentuk opor atau dibumbu yang selainnya. 

Ini berbeda dengan hari raya di rumah nenek saya di Semarang, yang mana di sana ketupat muncul justru tepat di saat hari raya Idul Fitri. 

Pada waktu kupatan, di mushola kampung diadakan kenduri atau selamatan dengan maksud sebagai ucapan syukur kepada rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita semua, juga sekaligus sebagai ajang untuk mengirimkan doa buat para leluhur yang telah mendahului. 

Di acara selamatan itu pak ustad akan memberikan sedikit ceramah yang tentunya berkaitan atau berhubungan dengan kupatan. 

Kata pak ustad, "Kenapa disuguhkan kupat lepet, artinya adalah pada waktu Idul Fitri kita (me)ngaKU lePAT ~mengakui kesalahan kita~ sehingga kita bermaaf-maafan, dan setelah bermaaf-maafan maka sebaiknya kesalahan yang sudah lalu itu disimpan yang rapat tidak usah diungkit lagi, istilahnya diLEP yang rapET."

"Kalaupun ada yang menyuguhkan Lonthong, bukan kupat,  ya gak masalah, itu bisa diartikan bahwa setelah Idul Fitri sebaiknya yang "oLO-olo" (olo/ala artinya jelek/buruk) dadi "koTHONG" alias kosong.", sambung pak ustad. 

"Lalu bagaimana jika tidak menyuguhkan kupat tapi Sego? Ya gak masalah juga, Sego bisa diartikan bahwa setelah Idul Fitri yang semula terasa ada ganjalan yang bikin seSEG bisa menjadi LeGO!", pungkas pak ustad disambut senyuman para jamaah. 

Setelah ritual selesai, dilanjutkan dengan makan bersama di mushola. Ini bisa jadi berbeda di masing-masing daerah, seperti misal di kampung saya yang dulu tidak ada acara makan bersama di mushola tapi berkatnya dibawa pulang. 

Bagaimana di tempat kalian? 

***

Ayo, Lihat Ngapain! 

Dulu sewaktu saya masih sekolah di sekitaran pertengahan era 90an, pada waktu kupatan setelah acara di mushola selesai biasanya saya dan teman-teman kongkow bareng-bareng di perempatan, di mana tempat tersebut menjadi pemberhentian kendaraan angkutan umum yang banyak mengangkut orang-orang yang akan merayakan kupatan dengan pergi ke pantai untuk lomban. 

Biasanya di waktu kupatan ada keramaian besar-besaran berupa hiburan di pantai, ada dangdutnya ada dermolennya ada jualan macam-macam barang dan jajanan. 

Tujuan saya dan teman-teman kongkow di perempatan bukan bermaksud untuk ikut pergi ke pantai, tapi kami hanya ingin melihat orang-orang yang pergi ke pantai itu. 

Di waktu itu kami bisa melihat berbagai macam gaya berpakaian dan dandanan, maupun berbagai macam lagak dan gaya bicara. Karena kebanyakan orang-orang itu adalah para perantau yang baru mudik dari tempat mereka bekerja, sehingga kami bisa mendengar celotehan campur baur antara mereka yang merantau di Surabaya dengan dialek Jawa Timuran berpadu dengan yang baru mudik dari Jakarta. Antara "Yok opo" dengan "Ngapain". 

Bisa dibayangkan, kan? 

***