heteroculture: kopi IBX583E46ECC8CCF
Showing posts with label kopi. Show all posts
Showing posts with label kopi. Show all posts

Jan 3, 2024

PERIHAL 2023




Generated by Bing AI


Tahun 2023 sudah berakhir, sekarang sudah memasuki 2024. Apakah ada halhal yang harus dilupakan, atau mungkin patut untuk diabadikan?

1. Membaca

Sepanjang 2023 tidak lagi sering membeli buku yang pada akhirnya hanya menumpuk untuk menunggu dibaca entah kapan sempatnya, tetapi kuputuskan untuk mulai membaca bukubuku yang ada, yang sudah dibeli, yang baru dibaca sebagian harus diselesaikan atau membaca dari awal bukubuku yang lain. Entah itu novel, kumpulan cerita, puisi atau topiktopik lainnya, termasuk majalah tentunya.


2. Menulis

Jika di 2022 aku menulis sekitar 15 judul puisi, di 2023 ini aku menulis 30an judul puisi. Terhitung masih sedikit, tapi lumayanlah masih bisa menuangkan keresahan pikiran tentang segala sesuatu melalui media puisi di tengah keriuhan kehidupan berumah tangga dan pekerjaan seharihari. Ohya, di tahun 2023 ini juga ikut terlibat di Antologi Puisi Membaca Jepara 9.

Selain itu juga memposting tulisan di blog yang cukup lama tidak aktif. Bukan apaapa, hanya sekadar berbagi cerita saja dari sudut pandang dan opini diriku sendiri. Pada 2023 ada sekitar 15 postingan di blog, sementara tahun sebelumnya hanya ada 1 postingan. Sebuah perbandingan yang sungguh njomplang.

Aku juga mulai lagi mengirimkan naskah puisi ke media online, walaupun belum ada yang nembus untuk ditayangkan . Tapi akan terus mencoba.


3. Musik

Aku sudah mulai mencoba untuk menahan diri dari godaan mata agar tidak terbujuk untuk membeli kaset pita lagi, rasanya koleksi yang ada sudah cukup banyak, yang bahkan jarang diputar. Kaset yang sering diputar juga berkisar pada yang ituitu saja. 

Sepertinya selera musikku stuck di musikmusik tahun 1970an, 1980an dan 1990an. Walaupun mungkin ada yang baru, tapi biasanya yang menyanyikan band atau penyanyi lama juga.

Di tahun 2023 ini juga mulai ngeband lagi, walaupun hanya sekadar untuk mengobati kerinduan akan suasana di dalam studio musik yang pernah diakrabi 20 tahun yang lalu, sewaktu masih suka ngeband dengan temanteman setongkrongan. 

Walaupun sudah agak grothalgrathul nggenjreng gitar karena lama gak latihan, apalagi jika harus ngulik melodi gitarnya, dijamin pusing entah berapa keliling. Dan lagulagu yang dimainkan juga kebanyakan lagulagu lama, walaupun sudah masuk di era tahun 2000an.


4. Thrifting

Kesukaan ngethrift alias awulawul kembali memanas. Sering menyambangi tokotoko barang thrift baik di media sosial maupun marketplace, juga dolan di lapak thriftingan yang ada di kota ini. Mencari celana panjang, celana pendek atau baju dan jaket. 

Pertama beli satu, eh lamalama jadi menumpuk gak terhitung lagi berapa jumlahnya. 


5. Kopi

Jika di tahuntahun sebelumnya lumayan sering nongkrong di kedai kopi dengan menikmati kopi filteran, di 2023 ini jarang sekali nongkrong. Apalagi teman yang biasanya menemani nongkrong sudah sibuk dengan kerjaannya, ditambah kedai kopi di dekat rumah malah tutup. Ya sudah, ngopi tetap jalan walaupun sachetan. Kopi filter? Jarangjarang.


6. Halhal lain

Beberapa hal lain:

a. Ngevape, karena penasaran aja sebenarnya, karena kupikir aneh ketika aku merokok tapi kok rasanya buahbuahan. Malah seperti lagi minum jus.

b. Menjadi affiliator marketplace, walaupun belum nampak hasilnya.

c. Menjadi kontributor survey online.

d. Mencoba untuk lebih maknani dan migunani tumraping liyan.

e. Tak sengaja menjadi panitia lomba 17an.

f. Menjadi pejuang giveaway.


Sekian.

Jul 2, 2023

Cerita Dari Kamar Rumah Sakit

Di depan rumah Mbah Kakung di Ungaran dulu ada beberapa pohon kopi, yang tiap kali liburan ke sana aku seringkali nangkring di atas pohon tersebut bermain bersama anak tetangga yang seumuran sambil sesekali nglethusi buah kopi yang sudah masak berwarna merah, nyesep manis getahnya.


Setelah pohon kopi ditebang, diganti dengan pohon rambutan. Soal pohon rambutan ini, ada ceritanya.


Suatu hari, Bulik mau balik ke Brebes, oleh mbah rencananya akan dibawain rambutan. Aku yang kebagian ngunduh bareng Om. Kebetulan hari itu habis hujan jadi agak licin pohonnya.


Sewaktu memanjat, karena licin maka tangganya tergelincir. Dan akibatnya aku terjatuh, temangsang di dahan pohon. Tangan luka terkena asbes yang disandarkan di dekat pohon.


Dua hari setelah jatuh dari pohon rambutan badanku terasa demam dan pusing. Kukira itu hanya karena kaget sebab terjatuh dari pohon. Tapi sudah diminumi obat pereda demam dan pusing dari toko masih tidak mempan. Masih terasa demam dan pusing, malah makin hebat.


Karena merasa tidak betah menahan demam dan pusing di kepala yang makin menjadi, aku minta diantar sama Om untuk periksa dokter. Setelah diperiksa dokter keluarlah diagnosanya: antara typus atau demam berdarah. Awalnya langsung disuruh untuk nginep di Rumah Sakit. Tapi aku gak mau.


Aku bilang sama Mbah Yayi, "Aku mau diopname kalo malamnya nanti aku muntah darah."


Tapi karena gak betah menahan sakit, walau gak muntah darah, pagi-pagi aku diantar Om dan Bulik ke Rumah Sakit, RSU Ungaran. Hingga sampailah di UGD, kemudian diinfus dan langsung terasa ringan ini kepala.


Sewaktu mondok di Rumah Sakit, sempat empat kali pindah ruangan. Pertama di UGD, kemudian di ruangan yang menampung kurang lebih 12 orang pasien, lalu kamar untuk 2 orang pasien, dan yang terakhir baru di kamar untuk 1 orang pasien di kamar Rajawali (kalau gak salah).


***


Cerita dari Kamar


Di sebuah ruangan yang berisi lebih dari 10 orang pasien.

Bulik: "Piye, arep madhang apa?" 

Aku: "Mi goreng wae." 

Bulik: "Ok, tunggu dhelok." 

Setelah beberapa menit,

Bulik: "Nyoh." 

Aku: "Ok, maturnuwun. Eh, tulung tumbaske pisang." 

Bulik: "Enak men kongkon. :)" 

Aku: "Lha kapan neh ngakon Bulik-bulik nek ra pas ko ngene. Hehehe." 

Bulik: "O cah edan!!"


Setelah pindah ke ruangan yang berisi 2 orang pasien. 

Padma: "Mas, kowe mesti isin to, opname ning kene." 

Aku: "He'e." 

Padma: "Soale kowe kan sering ngece nek ana wong lara. Jaremu, 'wes gedhe kok lara!?'" 

Aku: "Hehehehe."


***



Oct 24, 2017

Nikmat Kopi di Lidahmu

Vietnam Drip
Seorang teman saya namanya Abdul, biasa dipanggil Doel, termasuk seorang peminum kopi kelas berat. Tiap hari dia selalu minum minimal 2 gelas kopi di tempat kerja, di pagi dan siang hari.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya apakah pernah dia tidak ngopi seharian dan apa yang dirasakan? Jawabnya, "Pernah. Rasanya konsentrasi menjadi berkurang!"

Kopi yang biasa dikonsumsi adalah kopi sachetan yang praktis untuk proses penyeduhannya, dan mungkin karena kepraktisannya itulah kopi sachet memiliki banyak sekali penggemar. Dan bagi mereka yang menggemarinya tidak pernah terpikirkan persoalan apakah itu kopi murni, Arabica-Robusta, atau bahkan perisa kopi. Yang penting ngopi, itu saja.


***

Lain si Doel lain pula dengan Zuliant, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jepara. Dia dulunya sering mengkonsumsi kopi sachet seperti Doel, tapi setelah sempat mencicipi posisi menjadi seorang barista di salah satu kedai kopi di Jepara, Zuliant langsung balik kanan berpaling kepada kopi giling.

Zuliant sering mengonsumsi kopi single origin dengan metode menggunakan filter V-60. Bahkan karena saking gemarnya, dia sampai membeli alat-alat seduh kopi sendiri. Dia juga sering berbelanja kopi dari berbagai daerah, jenis kopi yang disukainya adalah jenis Arabica.

Sekarang ini Zuliant bahkan sampai berani mengharamkan kopi sachetan, menurutnya kopi sachet itu bukan kopi tetapi minuman yang beraroma dan berasa kopi.

Lagi-lagi itu soal pilihan. Bagaimana cara anda menyeduh kopi, maupun jenis kopi yang anda minum, soal rasa tetap ada pada lidah anda sendiri.

Mau jenis Arabica atau Robusta atau campuran dari kedua jenis kopi tersebut, atau kopi sachet, itu terserah anda sendiri. Apakah kopi akan anda olah dengan cara espresso, americano, vietnam drip, atau tubruk sekalipun, tetap lidah anda yang akan mengatakan nikmat atau tidaknya kopi. Bukan lidah orang lain.


Dec 13, 2016

Sulang dan Budaya Ngopi

Ilustrasi foto dari sulang.wordpress.com

Menikmati segelas kopi hitam sambil me’lelet’kan ampas kopi halus ke rokok sudah merupakan pemandangan yang lazim/lumrah ditemui di warung-warung kopi di sekitar Sulang.

--------


Sejak lama, anak-anak muda Sulang senang melakukan aktivitas berkumpul, yang untuk selanjutnya disebut nongkrong. Komunitas nongkrong ini, tidak hanya berasal dari satu generasi saja, tetapi lintas generasi. Ada yang merupakan teman di sekolah, teman sepermainan, ada juga guru dan muridnya. Dalam komunitas ini, semua atribut hilang, lebur. Semua sama, setara.

Kegiatan nongkrong ini menimbulkan gagasan dari ‘seseorang’ yang berinisiatif untuk membuat sarana untuk tempat nongkrong yang lebih representatif, yaitu dengan mendirikan warung kopi.

Hal ini terjadi kira-kira di era 90-an, yang waktu itu lagi booming Play Station, rentalan VCD dan Piala Dunia (untuk mengetahui kapan dan siapa yang pertama kali mempopulerkan warung kopi, perlu diadakan riset lebih lanjut).

Dengan berdirinya warung kopi, aktivis nongkrong akhirnya mendapatkan tempat ‘berlabuh’ yang lebih baik dari pada sebelumnya yang (mungkin) hanya bergerombol di ujung-ujung jalan, atau bahkan di pos ronda.

Dilengkapi dengan fasilitas game PS, membuat aktivis nongkrong ini menjadi lebih betah untuk berlama-lama berada di warung kopi, meski hanya dengan ditemani segelas kopi. Kadang, aktivitas nongkrong juga di barengi dengan acara nonton bareng pertandingan sepakbola, yang diakses melalui layar televisi yang telah tersedia.

Pada perjalanannya, keberadaan warung kopi sempat juga mengalami pasang surut. Ada yang terpaksa tutup karena terjadi ‘mis management’, atau karena si ‘owner’nya pindah domisili. Tetapi ada juga yang mengalami perkembangan setelah di’take over’ alias terjadi pergantian pengelolaan.

Dalam benak dan angan-angan saya, aktivitas ngopi ini bisa menjadi sarana untuk transfer teknologi, sarana untuk saling berbagi informasi dan pendapat. Entah itu mendukung atau bahkan meng’kritisi kondisi bangsa ini (dalam lingkup yang lebih khusus, keadaan Sulang).



Warung kopi menjadi tempat bertemunya para intelektual muda Sulang lulusan Yogya, Semarang atau kota lain, dan menularkan pengetahuannya kepada aktivis nongkrong yang tetap tinggal di Sulang, yang semua tetap bermuara pada satu hal, kemajuan Sulang itu sendiri.


Sekian.

--------
Keterangan:
Sulang, sebuah desa di Selatan kota Rembang, Jawa Tengah.