heteroculture: cerita IBX583E46ECC8CCF
Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Jul 7, 2025

Seseorang Yang Mengenalimu

Kemarin aku ada urusan yang harus diselesaikan di kota S, sehingga harus berangkat agak pagi biar nanti sampai di sana tidak terlalu siang. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit, aku mampir sarapan untuk mengisi perut, njagani, karena biasanya ketika sudah mengerjakan urusan membuat lupa soal perut. Bisa-bisa kelaparan. 

Mobil kubelokkan ke salah satu rumah makan di jalan lingkar, sekilas parkiran di rumah makan tersebut tampak penuh dengan kendaraan yang parkir, dan dapat spot parkir di depan toilet. 

Ketika keluar dari mobil, aku berpapasan dengan seseorang yang baru saja keluar dari toilet, kami sempat beradu pandang. Pertemuan itu membuatku berpikir, wajahnya seperti kukenal, tapi aku lupa siapa. Awalnya kupikir wajahnya mirip dengan anak dari sepupu jauhku, tapi posturnya tidak setinggi orang yang baru keluar dari toilet. Akhirnya pikiran itu hilang menguap begitu saja.

Memasuki rumah makan, kulihat hampir semua meja dan kursi tampak penuh berisi pengunjung, karena memang ini pas waktunya orang-orang biasanya sarapan pagi. Ketika sedang mencari tempat duduk, aku berpapasan dengan seorang perempuan yang wajahnya seperti kukenal. Wajah seseorang dari waktu yang jauh dan dari tempat yang lampau. Tapi kupikir, ah, paling hanya mirip saja.

Lalu aku disibukkan dengan memilih menu yang hendak kusantap pagi ini. Aku memilih lauk telur ceplok, sayur nangka dan kacang panjang. Lalu duduk di salah satu tempat.

Kebetulan tempatku duduk itu berseberangan dengan perempuan yang berpapasan tadi. Dan kebetulan lagi, dia duduknya menghadap ke arahku sehingga aku bisa lebih leluasa memandang wajahnya sambil mengingat siapa dia sebenarnya. Di sebelahnya, duduk seorang laki-laki yang tadi beradu pandang di depan toilet sewaktu aku memarkir mobil. Sebuah kebetulan yang entah apa.

Di tengah aktivitas makan, aku merasa butuh mengambil kerupuk yang ada di meja belakangku. Lalu aku berdiri mengambil kerupuk itu. Sewaktu berbalik hendak duduk kembali, aku beradu pandang dengan perempuan itu. 


Dia tersenyum sambil melakukan gerakan seperti sedang mengingat-ingat, kemudian dia bertanya, "Mas Y?" 

"Ya", jawabku.

"Di mana sekarang?", tanyanya lagi.

"Di kota J. Mau kemana?", tanyaku balik.

"Ke kota S"

"Gak kerja?", tanyaku lagi.

"Bolos", jawabnya.

Kami kemudian melanjutkan aktivitas masing-masing. Apa yang ada dibenakku tidak lagi hidangan yang ada di piring di depanku, tapi adalah kenyataan bahwa ternyata dia masih mengenaliku, sedangkan aku sendiri menolak pikiranku bahwa dia adalah perempuan dari masa lampau. Ah, dunia yang sempit dan kebetulan yang entah.

Selesai makan, dia pamitan duluan sambil senyum dan menyapa "Yuk, duluan".

Jul 11, 2023

Telur, Telur dan Telur

by aiusage


Soal makan memakan saya punya cerita sewaktu masih kecil. Dulu saya susah sekali kalau disuruh untuk makan. Harus dipaksa berulang kali sampai mau makan dan menghabiskannya, walau dengan terpaksa. Kadang dengan ancaman, "kalo makannya gak habis, ayamnya mati lho!".


Jika pada waktu makan itu tidak ditunggui Bapak atau Ibu, biasanya langsung saja saya buang nasinya. Kalau tidak ke kolong meja atau dipan, ya saya buang ke luar jendela. Jangan tanya kalau ketahuan, sudah pasti akan dimarahi dan diomeli oleh Bapak dan Ibu.


Karena Ibu juga harus bekerja, jadi menu sarapan pagi yang paling mudah adalah nasi ditambah telur mata sapi ples kecap. Kadang juga tempe goreng, atau telur dadar. Yang pasti jenisnya 'garingan'.


Pada saat kuliah, saya tinggal bersama Kakek dan Nenek di Semarang. Di sini saya bertemu dengan telur lagi, tapi kali ini telur dadar. Hampir tiap hari lauknya telur dadar dan sambal, kadang diselingi tahu goreng atau tempe goreng. Dan hampir bisa dipastikan juga semi-semi 'garingan'.


Ketika sudah lulus kuliah dan mulai bekerja, saya numpang di rumah Pakdhe, kakak dari Bapak. Namanya numpang ya harus menerima saja apa yang ada, termasuk soal makan. Mungkin sudah takdir saya harus bersua dengan telur dan berbagai variannya.


Di rumah Pakdhe, saya juga hampir tiap hari ketemu dengan telur di pagi hari, ditambah sambal tanpa diuleg alias lomboknya diblender. Praktis memang, tapi rasanya hambar beda dengan sambal hasil ulegan tangan. Entah, itu mungkin hanya perasaan saya saja.


***


Kalau waktu kecil saya sering malas dan susah kalau disuruh makan, tapi setelah besar saya malah seperti penampungan. Kalau ada makanan yang masih sisa adalah bagian saya untuk menampung dan mengolahnya sampai habis tidak tersisa. 


Misal Ibu lagi masak nasi goreng, Ibu akan menyediakan beberapa piring untuk diisi dengan nasi goreng untuk jatah Bapak, adik dan keluarga yang lain. Mana jatah saya? Sisa masakan yang masih ada di penggorengan! 


:)

Jul 2, 2023

Cerita Dari Kamar Rumah Sakit

Di depan rumah Mbah Kakung di Ungaran dulu ada beberapa pohon kopi, yang tiap kali liburan ke sana aku seringkali nangkring di atas pohon tersebut bermain bersama anak tetangga yang seumuran sambil sesekali nglethusi buah kopi yang sudah masak berwarna merah, nyesep manis getahnya.


Setelah pohon kopi ditebang, diganti dengan pohon rambutan. Soal pohon rambutan ini, ada ceritanya.


Suatu hari, Bulik mau balik ke Brebes, oleh mbah rencananya akan dibawain rambutan. Aku yang kebagian ngunduh bareng Om. Kebetulan hari itu habis hujan jadi agak licin pohonnya.


Sewaktu memanjat, karena licin maka tangganya tergelincir. Dan akibatnya aku terjatuh, temangsang di dahan pohon. Tangan luka terkena asbes yang disandarkan di dekat pohon.


Dua hari setelah jatuh dari pohon rambutan badanku terasa demam dan pusing. Kukira itu hanya karena kaget sebab terjatuh dari pohon. Tapi sudah diminumi obat pereda demam dan pusing dari toko masih tidak mempan. Masih terasa demam dan pusing, malah makin hebat.


Karena merasa tidak betah menahan demam dan pusing di kepala yang makin menjadi, aku minta diantar sama Om untuk periksa dokter. Setelah diperiksa dokter keluarlah diagnosanya: antara typus atau demam berdarah. Awalnya langsung disuruh untuk nginep di Rumah Sakit. Tapi aku gak mau.


Aku bilang sama Mbah Yayi, "Aku mau diopname kalo malamnya nanti aku muntah darah."


Tapi karena gak betah menahan sakit, walau gak muntah darah, pagi-pagi aku diantar Om dan Bulik ke Rumah Sakit, RSU Ungaran. Hingga sampailah di UGD, kemudian diinfus dan langsung terasa ringan ini kepala.


Sewaktu mondok di Rumah Sakit, sempat empat kali pindah ruangan. Pertama di UGD, kemudian di ruangan yang menampung kurang lebih 12 orang pasien, lalu kamar untuk 2 orang pasien, dan yang terakhir baru di kamar untuk 1 orang pasien di kamar Rajawali (kalau gak salah).


***


Cerita dari Kamar


Di sebuah ruangan yang berisi lebih dari 10 orang pasien.

Bulik: "Piye, arep madhang apa?" 

Aku: "Mi goreng wae." 

Bulik: "Ok, tunggu dhelok." 

Setelah beberapa menit,

Bulik: "Nyoh." 

Aku: "Ok, maturnuwun. Eh, tulung tumbaske pisang." 

Bulik: "Enak men kongkon. :)" 

Aku: "Lha kapan neh ngakon Bulik-bulik nek ra pas ko ngene. Hehehe." 

Bulik: "O cah edan!!"


Setelah pindah ke ruangan yang berisi 2 orang pasien. 

Padma: "Mas, kowe mesti isin to, opname ning kene." 

Aku: "He'e." 

Padma: "Soale kowe kan sering ngece nek ana wong lara. Jaremu, 'wes gedhe kok lara!?'" 

Aku: "Hehehehe."


***



Jun 13, 2023

Cerita Motor Mogok

Suatu hari, sepulang kerja ketika perjalanan sampai di daerah Bok Ijo Tahunan tiba-tiba motor ngadat. Mesin mendadak mati. Dugaan pertama adalah karena oli habis, karena memang sudah waktunya ganti oli, tapi selalu tertunda terus.

Segera motor kutuntun ke pinggir jalan. Kemudian kucoba nyalakan motor pakai stater pencet, gak bisa nyala. Kemudian motor kustandarkan ganda, lalu coba untuk kuogleng, gak bisa, karena oglengan ngunci. Fix, kesimpulannya harus nyari bengkel. 

Agak cemas dan ragu dapat bengkel, karena biasanya bengkel tutup sekitar jam 4 sore. Kemudian bertanya sama orang yang kebetulan ketemu di jalan, di mana ada bengkel terdekat. 

Selain bertanya kepada orang lain, kucoba kontak saudara dan teman yang rumahnya dekat-dekat daerah situ. Alhamdulillah, saudara ada yang lagi santai lalu berkabar akan datang menghampiri. 

Sambil menunggu kedatangannya, motor kutuntun pelan-pelan. Beberapa orang baik berhenti dan menanyakan kondisi motorku, lalu menawarkan bantuan apakah perlu didorong, kujawab "Terima kasih, ini sudah ada saudara yang mau datang ke sini. Sekali lagi terima kasih atas tawarannya."

Kemudian saudara datang, lalu mendorong motor ke bengkel yang masih buka. Sesampai di bengkel, motor dicek kondisinya dan diputuskan harus opname karena dicoba pertolongan pertama dengan mengisikan oli ke tangki masih saja motor tidak bisa nyala. 

Ok, motor harus nginap di bengkel. Kemudian saudara meminjami motornya untuk kubawa pulang. 



***

Terima kasih orang-orang baik senasib sepenanggungan di jalan.

Dec 21, 2021

Sang Penunggu Rumah

Kami pindah ke rumah ini sekira tahun 2017an. Rumah yang kami bangun di atas tanah yang dulunya berdiri bangunan rumah milik nenek, yang akhirnya karena faktor keamanan harus dirubuhkan untuk kemudian didirikan bangunan baru, rumah kami.

Tidak pernah terjadi kejadian-kejadian aneh selama kami menempati rumah ini. Hanya ada cerita dari saudara dan tetangga di sekitar rumah tentang adanya sosok yang menunggu atau menjaga rumah kami.

Memang di belakang rumah kami ada pohon mangga yang batangnya besar dan tinggi, dan di samping juga masih ada kebun milik budhe serta bekas bangunan rumah kakek yang dirobohkan.

Pernah ada yang bercerita kalau ada salah seorang tetangga melihat penampakan pocong di sebelah timur rumah, tepatnya di bedeng sementara tempat menyimpan kayu bekas rumah dan lain-lain, tapi bedeng ini sekarang sudah ambruk.

Ketika ada seorang teman kunjung ke rumah, kebetulan katanya dia punya kelebihan bisa melihat makhluk tak kasat mata, iseng saya bertanya kepadanya apakah dia melihat "sesuatu" di sekitar rumah ini?

"Ada. Tuh, di depan", jawabnya sambil menunjuk tonggak bekas pohon jambu di depan rumah yang sudah di tebang.

Lain hari ketika seorang teman yang sering tirakat sobo kuburan dan dolan ke tempat para danyang berada mampir ke tempat kami, dia langsung nyerocos," Oh, aku belum pernah dolan ke danyang kampung ini. Kapan-kapan antar ya?".

Lalu saya tanyakan hal yang sama yang pernah kutanyakan kepada teman yang bisa melihat makhluk tak kasat mata, "Banyak. Tapi gak papa, mereka tidak mengganggu", jawabnya.

***



Budhe pernah bilang padaku kalau penghuni rumah sebelum kami pindah ke rumah ini telah meninggalkan beberapa ekor ayam, sehingga seharusnya itu sah menjadi milik kami.

Tapi karena ayamnya liar tidak di kandang, saya kesulitan jika ingin menangkapnya. Akhirnya saya biarkan saja ayam-ayam itu berkeliaran dan beranak pinak.

Dan meskipun ayam itu menjadi ayam liar, tidak ada orang yang berani menangkapnya. Seorang tetangga pernah bercerita kepada kakak sepupu yang kemudian diceritakan kepada saya.

Katanya,"Dulu pernah ada seseorang yang menangkap seekor ayam di belakang rumah, kemudian ketika dibawa pulang dia merasa ada sesosok yang mengikutinya, tapi ketika ditoleh tidak nampak ada sesosok apapun. Karena ketakutan, akhirnya ayam itu dilepaskan lagi. Dan sejak itu, tidak ada yang berani menangkap ayam-ayam liar di sekitar rumah."

Beberapa waktu lalu saya dan kakak sepupu kebetulan sedang menebang pohon pisang ambon yang sudah masak, kemudian kakak sepupu melihat ada beberapa butir telur di belakang rumah.

Dia ambil satu untuk ditelan bagian kuningnya. Sebelum nguntal kuning telur dia berucap, "Mbah, nyuwun telurnya satu buat obat."

--end--

Sep 25, 2017

Desaku Berubah

pixabay.com

Hari ini aku diajak jalan-jalan oleh cucuku, dimulai dengan melewati jalan yang sudah terang benderang oleh nyala lampu.Lantas aku teringat dan membandingkan dengan keadaan dulu, yang masih gelap sebagian, karena terbatasnya listrik. Sehingga tiap kali ada suatu daerah yang gelap, beredarlah dari mulut ke mulut sebuah cerita yang seram dan menakutkan.

Langit sekarang sudah dipenuhi dengan tower-tower antena penyedia layanan telekomunikasi. Dahulu, untuk berkomunikasi, orang hanya bisa lewat surat atau telegram yang dikirim melalui jasa pos. Sekarang, orang semakin mudah berkomunikasi, bisa melalui telepon, sms, atau bahkan chatting.

Sekarang di depan kantor walikota [dahulu adalah kantor kecamatan] sudah berdiri ruko-ruko dengan berbagai outlet yang menawarkan berbagai macam produk; jasa telekomunikasi, warung internet, game, kuliner, dan lain-lain.

Anak-anak sekarang sudah tidak ada lagi yang bermain 'benthik-sepongan-bagsodor-betengan-layangan-nekeran'. Sekarang, semua permainan sudah serba instan-serba digital, tinggal klik, maka tersajilah semua. 

Ah, aku jadi kangen dengan nostalgia masa lampau.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "masihkah anak-anak sekarang mengingat pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan negara ini?, ataukah yang sekarang ada di pikiran mereka hanya tokoh-tokoh kartun dari negeri asing, seperti yang sekarang banyak tersaji di layar televisi?"

Melewati depan sebuah rumah makan cepat saji [dulu adalah warungnya nasi pecel], dekat portal, tempat kami dulu sering nongkrong menunggu anak-anak SMA lewat, kulihat rumah makan ini demikian padat pengunjung. 

Orang-orang sudah berubah menjadi konsumtif, mungkin karena saking banyaknya insentif yang diberikan oleh pemerintah, atau memang karena negara ini sudah cukup makmur.

Keadaan demikian cepat berubah. Dulu, kami begitu susah untuk memenuhi keinginan bermain musik, sekarang studio sudah begitu banyak tersedia. Dulu, untuk pergi ke keramaian kota saja begitu sulit aksesnya, sekarang tak usah kemana-mana, di pusat kota [dulu adalah lapangan sepakbola] sudah berdiri dengan megahnya sebuah pusat perbelanjaan, yang siap menyajikan segala macam bentuk hedonisme.

Ah, rasanya aku sudah lelah mengikuti perjalanan ini, hingga tak terasa aku tertidur, dan terkejut ketika dibangunkan oleh cucuku.

Ternyata, semua itu tadi hanya mimpiku saja. Desa ini masih sama dengan lima-sepuluh tahun yang lalu, masih saja bermasalah dengan air, kekeringan, dan sebagainya. Walaupun sudah berganti-ganti pucuk pimpinan pemerintahan, tetapi pembangunan dan kemajuan yang diharapkan seakan berjalan dengan lambat. Entah sampai kapan.

Feb 10, 2017

Mbah Mik dan Kebun Kelapa

Saya mengenalnya dengan nama Mbah Mik begitu saja, tidak pernah tahu nama sebenarnya. Seorang perempuan tua seumuran dengan nenek, yang setiap subuh berangkat ke pasar menjajakan dagangannya berupa empon-empon dan bumbu-bumbu lainnya.

Mbah Mik ini tinggal sekampung dengan saya tapi beda RT, beliau tinggal di RT 2 sedangkan saya di RT 1. Setiap kali Mbah Mik berangkat ke pasar selalu lewat jalan depan rumah.

Rute yang harus dilewati Mbah Mik adalah dengan melalui kebun kelapa, karena memang itu jalur terdekat agar cepat sampai ke pasar. Kebun kelapa yang banyak ditumbuhi pohon kelapa ketika malam gelap terlihat sepi dan mengerikan. Pohon kelapa yang menjulang seperti raksasa yang siap menerkam siapa saja yang melewatinya. 

Kisah berikut ini kudengar dari kasak-kusuk yang beredar diantara para tetangga, yang melibatkan Mbah Mik dan kebun kelapa itu.

***

Suatu pagi, seperti biasa saban subuh Mbah Mik berangkat ke pasar dengan melewati jalan depan rumah terus melintasi kebun kelapa. 

Suasana masih gelap, masih belum banyak orang yang berlalu lalang di jalan. Mbah Mik berjalan pelan dengan menggendong dunak di punggungnya. 

Ketika sampai di kebun kelapa, sebenarnya perasaan Mbah Mik terasa tidak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, yang membuatnya gentar melalui kebun kelapa.Tapi keinginan untuk segera sampai di pasar menguatkan tekatnya untuk tetap berjalan menembus kebun kelapa.

Lalu terdengar suara buah kelapa terjatuh di dekat Mbah Mik. Gedebug! Dengan senter kecil yang dipegangnya disorotnya ke arah bunyi terjatuh tadi. Sorotannya mengenai sebutir buah kelapa yang kulitnya berwarna coklat tua, dan segeralah diambilnya lalu ditaruh di dunak yang digendongnya. Pikirnya, "Siapa tahu bisa dijual nanti di pasar". 

Mbah Mik kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar, namun dia merasakan keanehan pada dunak yang digendongnya. Gendongannya kali ini terasa lebih berat daripada saat berangkat dari rumah tadi, bahkan makin lama makin terasa berat.

Mbah Mik berhenti sejenak, kemudian menurunkan dunak dari punggungnya. Pandangan matanya tertuju pada buah kelapa yang tadi dipungutnya di kebun kelapa. 

Buah yang tadi berwarna coklat tua, berubah menjadi berwarna merah menyala seperti api. Dan tiba-tiba muncul kilatan-kilatan api berbentuk seperti rambut. Kemudian terdengar suara tertawa yang menusuk-nusuk telinga Mbah Mik.

Mbah Mik langsung lari kencang meninggalkan dunaknya di kebun kelapa, sambil komat-kamit membaca doa sebisanya. Mbah Mik baru berhenti ketika larinya sudah sampai di depan pasar.

Salah seorang teman sesama pedagang melihat Mbah Mik yang badannya basah kuyup berkeringat dan pucat wajahnya lalu bertanya, "Ada apa mbah? Mana daganganmu?"

Sambil sesekali terengah nafasnya, Mbah Mik menjawab "Ada gundul pringis di kebun kelapa! Dunakku tak tinggal di sana!".

-selesai-

Jan 5, 2017

Gak Jadi Nonton Video



Malam minggu, seperti biasa adalah waktu bagi anggota Genk Lelembut untuk berkumpul dan bercengkrama. Mereka selalu menghabiskan malam yang panjang dengan berbagai macam acara, nyate kelinci, nonton dangdut, minum limun sambil belagak mabuk, dan banyak lagi. 

Oh ya, perkenalkan dulu para anggota Genk Lelembut ini. Yang umurnya paling tua adalah Bongod, kemudian berurutan adalah Genter, Buto, Mink, Payman, Bulus, Gayok, Andik, dan Cemplon. Namun dalam kisah ini yang terlibat hanyalah empat nama pertama saja.

Soal nama Genk Lelembut ini adalah pemberian dari mas Kithut, anggota genk El Pramas, plesetan dari nama grup band El Pamas yang artinya adalah "Elek-elek Prapatan Mas". Nama Lelembut diberikan karena para anggotanya dianggap masih "lembut", bau kencur.


***

Sabtu siang, saya dan 3 orang anggota Genk Lelembut sepakat untuk pergi menonton hiburan tayangan video di desa tetangga nanti malam dengan menggunakan dua buah sepeda 

Di kampung sebelah ada orang punya hajat, punya kerja, bahasa  jawanya "nduwe gawe" menikahkan anaknya dengan nanggap tontonan video yang ditayangkan di layar tivi yang ukurannya agak besar.

Biasanya yang diputar adalah film-filmnya Rhoma Irama, Suzanna, film silat Barry Prima atau film komedi Warkop DKI. Dan, ini yang biasanya paling ditunggu, kalau waktu sudah menuju dini hari di mana para perempuan dan anak-anak sudah terlelap tidur, filmnya akan diganti dengan film yang agak-agak gimana gitu, semi vulgar.

Sehabis maghrib selesai nyetrika saya mengeluarkan sepeda jengki lalu menuju ke titik pertemuan yang telah ditentukan. Saya berboncengan dengan Bongod, Buto boncengan dengan Mink. Pertama-tama saya yang kebagian ngonthel, Bongod mbonceng. Sesampai di daerah Gersapi kami bertukar posisi. 

Kami berempat mengayuh sepeda penuh semangat, malam yang gelap tidak menjadi halangan. Bahkan meski harus melalui jalur keramat, jalur gawat.

Ketika sampai di jalan yang turunannya agak curam, dan tepat berada di daerah keramat, saya berkata kepada Bongod yang ada di posisi depan, "Katanya di sini ada kuburan mbah Kartosuwiryo ya?". Bongod langsung nyahut, "Hush, diam saja. Gak usah ngrasani. Nanti kualat kita!". Saya kemudian terdiam, sementara Buto dan Mink sudah melaju jauh di depan.

Akhirnya tibalah perjalanan di jalan yang menurun tajam, di gelapnya malam sepeda yang dikayuh Bongod lama-lama oleng. Dengan kecepatan tinggi sepeda melaju turun ke bawah, hampir sampai di jalan yang landai tiba-tiba, brakkkk gubrakkk!!! 

Bongod terjatuh terhimpit sepeda dengan luka memar di wajah , sementara saya luka memar di kaki dan pantat. 

Kami putuskan tidak jadi melanjutkan perjalanan, kami balik kanan: pulang. Setelah diobati sebisanya, saya pulang ke rumah. Sepeda saya parkirkan, langsung saya mapan: tidur dengan sekujur tubuh njarem semua kemulan sarung biar tidak konangan sama Bapak dan Ibu.

Pagi-pagi saya tetap bertugas untuk nyapu halaman dengan kaki terpincang-pincang, Ibu melihat tapi hanya diam saja. Sementara itu, Bongod pergi ke Balai Desa: untuk foto ktp dengan wajah memar seperti habis gelut dikeroyok preman se terminal!

***


Nov 29, 2016

Mbah Saelan dan Duri Ikan

Di depan rumah yang ditempati Bapak, adalah rumah mbah Saelan, salah seorang sesepuh di kampung kami. Beliau masih keturunan mbah Yakub, leluhur di kampung kami.  Mbah Elan sering ikut nonton tivi di tempat kami, sampai siaran selesai. 

Mungkin tidak hanya saya yang pernah mengalami kejadian ini, menelan duri ikan lalu durinya nyangkut di tenggorokan, sakit rasanya kalo buat menelan. 

Suatu kali, saya mengalaminya. menelan duri ikan, dan nyangkut di tenggorokan. Berbagai cara dilakukan untuk mengatasinya, dari mulai minum air putih, makan nasi tanpa dikunyah lebih dulu, tapi tak juga melepaskan sangkutan duri tersebut. 

Entah siapa yang memberitahu, tibatiba saya disuruh minta air putih kepada mbah Saelan. Sambil membawa gelas, saya ke rumahnya, lalu menyampaikan maksud kedatangan saya. 

Setelah mbah Saelan paham maksud saya, segera saya diajaknya ke belakang, ke bagian dapur. Lalu dari sebuah gentong yang terletak di sudut, mbah Saelan mengambil segelas air dan diberikan kepada saya, untuk kemudian saya minum. Saya pamit pulang setelah berterima kasih. 

Sesampai di rumah, langsung saya minum segelas air dari gentong tadi. Dan, alhamdulillah, durinya ilang dan tenggorokan tidak sakit lagi.

Sampai sekarang saya masih belum paham atau belum mengerti apa hubungan air dari gentong Mbah Saelan tersebut dengan duri ikan yang nyangkut di tenggorokan saya.

Nov 6, 2016

Demam

Bapak masih ngontrak. Belum ada listrik, untuk penerangan masih menggunakan lampu minyak dan lampu petromak.

Suatu ketika saya sakit demam. Saya hanya berbaring di tempat tidur. Waktu malam hari, dan saat saya masih terjaga, kata Ibu, saya sering tertawa-tawa sendiri. 

Ketika ditanya, jawab saya, "Lucu". "Kenapa?", tanya Ibu lagi sambil memegang kening saya. "Lampunya bisa goyang-goyang sendiri!" Kata Ibu, lampu minyak yang tertiup angin apinya akan terlihat seperti bergoyang-goyang.

Kali lain, saya terlihat seperti ketakutan, ketika ditanya Ibu, jawab saya,"Gentengnya menjadi besar, sehingga saya takut akan kejatuhan".

Apakah saya berhalusinasi? Entah. Ketika saya tidur, kata Ibu, saya sering mengigau. Yang saya ingat dari mimpi saya itu, saya bertemu dengan orang-orang, yang lama kelamaan berubah menjadi semakin besar bentuknya seperti raksasa, sedangkan saya masih dalam ukuran yang tetap.


Mimpi-mimpi sejenis itu kadang masih menghampiri saya, sampai sekarang.