heteroculture: kehidupan IBX583E46ECC8CCF
Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Nov 6, 2016

Demam

Bapak masih ngontrak. Belum ada listrik, untuk penerangan masih menggunakan lampu minyak dan lampu petromak.

Suatu ketika saya sakit demam. Saya hanya berbaring di tempat tidur. Waktu malam hari, dan saat saya masih terjaga, kata Ibu, saya sering tertawa-tawa sendiri. 

Ketika ditanya, jawab saya, "Lucu". "Kenapa?", tanya Ibu lagi sambil memegang kening saya. "Lampunya bisa goyang-goyang sendiri!" Kata Ibu, lampu minyak yang tertiup angin apinya akan terlihat seperti bergoyang-goyang.

Kali lain, saya terlihat seperti ketakutan, ketika ditanya Ibu, jawab saya,"Gentengnya menjadi besar, sehingga saya takut akan kejatuhan".

Apakah saya berhalusinasi? Entah. Ketika saya tidur, kata Ibu, saya sering mengigau. Yang saya ingat dari mimpi saya itu, saya bertemu dengan orang-orang, yang lama kelamaan berubah menjadi semakin besar bentuknya seperti raksasa, sedangkan saya masih dalam ukuran yang tetap.


Mimpi-mimpi sejenis itu kadang masih menghampiri saya, sampai sekarang.

Nov 2, 2016

Gerhana Matahari

(1983) 
Waktu itu usia saya masih 7 tahun beberapa bulan menuju ke 8 tahun. Yang saya ingat adalah cerita yang mengiringi adanya peristiwa gerhana matahari itu. Menurut cerita yang saya dengar, matahari akan ditelan oleh Betara Kala sehingga dunia menjadi gelap gulita tanpa cahaya.

Betara Kala adalah sosok raksasa yang bersifat jahat. kemudian agar matahari segera dimuntahkan oleh Betara Kala, orang-orang sibuk memukul-mukul apapun yang dapat menimbulkan suara riuh. Ada yang memukul kentongan, lesung, ember dan lain-lain.

Dan ketika gerhana matahari total berlangsung, saya dilarang oleh bapak dan ibuk untuk melihat secara langsung ke arah matahari. Karena akan menjadi buta. Jadinya, ketika keadaan gelap gulita dan suara tetabuhan bergema, saya berada di dalam rumah dan bersembunyi di bawah kolong meja.

(2016) 
Peristiwa gerhana matahari total kembali terjadi. Tapi berkebalikan dengan apa yang saya alami dulu. Sekarang orang berbondong-bondong menyiapkan segala rupa untuk menyambut kedatangan gerhana. seperti tamu agung yang harus dijamu sedemikian rupa.


Orang berebut tidak mau ketinggalan dan mengabadikan momen peristiwa gerhana. (Mungkin) mereka tidak tahu kalau matahari mereka ditelan Betara Kala.

Oct 31, 2016

Tentang Mati

Apa yang kita rasakan ketika mendapat berita kematian? Apakah ada perasaan sedih, kecewa, berkabung, geram atau bahkan gembira dan senang? Tergantung, siapa yang menjadi subyek dari berita itu, tentunya.

Kematian adalah hal biasa, normal, wajar. Yang hidup sudah pasti akan mati. Dan manusia termasuk di dalamnya. Mengutip Socrates,”Semua manusia mati”.

Haruki Murakami, dalam novelnya Norwegian Wood, mengatakan,”Kematian bukanlah lawan kehidupan, tetapi ada sebagai bagiannya”. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Gde Prama, bahwa,”Ia (kematian) adalah mitra makna kehidupan. Hanya dengan menyelami kematian, kita bisa hidup sekaligus mati dengan indah”.

Manusia menanggapi kematian dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang akan dengan spontan menyebut, "Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rajiun, Semua yang berasal dariNya pasti akan kembali lagi padaNya". Ada juga yang (mungkin) akan merasa senang menyambut datangnya kematian, jika mereka sependapat dengan Chairil Anwar yang mengatakan,”Hidup hanya untuk menunda kekalahan”, dalam salah satu puisinya. Atau seperti kata Sartre,”Mati adalah resiko hidup”.

"Telah pulang ke rumah Bapa", "Telah kembali ke haribaanNya", "Telah beristirahat dengan tenang", adalah beberapa baris kata yang sering ada pada iklan-iklan tentang kematian. Apa maknanya?

Janganlah takut menghadapi mati. Mati bisa berarti ‘pulang-kembali’ karena kita telah selesai menjalankan tugas untuk berada di dunia. Bisa juga berarti ‘istirahat’ dari hiruk pikuk dunia yang melelahkan, dan berat.

Sebenarnya semua dari kita telah mengalami pengalaman mati, walau cuma sebentar. Fase ini terjadi ketika kita sedang tidur. Pada hakikatnya, tidur sama dengan mati, karena pada waktu tidur kita tidak lagi berkuasa untuk mengendalikan tubuh kita.

Bahkan Nabi Muhammad Saw, menyebutkan dalam doanya,”Bismika Allahumma Ahya Wa Amut, Ya Allah Dengan AsmaMu Aku Menjalani Hidup, dan Dengan AsmaMu Malam Ini Aku Mati”.

Jika ada yang bertanya, siapkah kita menghadapi kematian? Siap tidak siap, kita semua akan mati. Dan itu adalah satu hal yang pasti!

2008-2016