heteroculture: realistis IBX583E46ECC8CCF
Showing posts with label realistis. Show all posts
Showing posts with label realistis. Show all posts

Nov 2, 2016

Gerhana Matahari

(1983) 
Waktu itu usia saya masih 7 tahun beberapa bulan menuju ke 8 tahun. Yang saya ingat adalah cerita yang mengiringi adanya peristiwa gerhana matahari itu. Menurut cerita yang saya dengar, matahari akan ditelan oleh Betara Kala sehingga dunia menjadi gelap gulita tanpa cahaya.

Betara Kala adalah sosok raksasa yang bersifat jahat. kemudian agar matahari segera dimuntahkan oleh Betara Kala, orang-orang sibuk memukul-mukul apapun yang dapat menimbulkan suara riuh. Ada yang memukul kentongan, lesung, ember dan lain-lain.

Dan ketika gerhana matahari total berlangsung, saya dilarang oleh bapak dan ibuk untuk melihat secara langsung ke arah matahari. Karena akan menjadi buta. Jadinya, ketika keadaan gelap gulita dan suara tetabuhan bergema, saya berada di dalam rumah dan bersembunyi di bawah kolong meja.

(2016) 
Peristiwa gerhana matahari total kembali terjadi. Tapi berkebalikan dengan apa yang saya alami dulu. Sekarang orang berbondong-bondong menyiapkan segala rupa untuk menyambut kedatangan gerhana. seperti tamu agung yang harus dijamu sedemikian rupa.


Orang berebut tidak mau ketinggalan dan mengabadikan momen peristiwa gerhana. (Mungkin) mereka tidak tahu kalau matahari mereka ditelan Betara Kala.

Oct 31, 2016

[Mungkin] Saya Lebay



Saya tak ingat lagi kapan tepatnya, saat saya sempat "bersitegang" dengan bapak di rumah gara-gara sepakbola. Kok bisa? Ya, bisa saja.

Waktu itu timnas Indonesia sedang bertanding melawan Jepang, salah satu pemain yang masih saya ingat adalah Ricky Yakob sebagai salah seorang penyerangnya. Lalu apa yang membuat bersitegang?

Saya berpendapat bahwa kita harus tetap optimis bahwa kita bisa mengimbangi kesebelasan Jepang, tapi bapak bilang bahwa kita harus realistis dengan kemampuan kita. Sampai-sampai saya bawa-bawa soal nasionalisme segala, sementara bapak hanya terkekeh saja.

Beberapa hari lalu euphoria kembali menyeruak, yaitu ketika Rio Haryanto, menjadi satu-satunya pembalap dari Indonesia yang bisa membalap di lintasan F1, bahkan satu-satunya pembalap dari Asia.

Banyak dukungan dan simpati yang diberikan kepada Rio, tapi tak sedikit pula cibiran yang melayang kepadanya. Wajar, hidup di dunia penuh dengan banyak orang tentu banyak pula resiko yang harus dihadapi. Realistis adalah ketika kita berharap Rio bisa membalap sebaik-baiknya dan tentunya bisa mengukir prestasi di tim "kecil" yang dibelanya.

Sekian tahun ada balapan F1 saya hanya melirik sekilas saja, tapi ketika kemarin F1 disiarkan, bahkan saya merasakan antusias yang cukup besar. Apakah ini karena ada orang Indonesia yang ikut membalap? Entah.

Sudah lama saya tidak merasakan gairah seperti ketika Hendrawan menjadi penentu kemenangan tim bulutangkis (suer, ketika itu mata saya bahkan berkaca-kaca mau nangis), atau ketika mendengar nama Ellyas Pical disebut oleh ring announcer sebagai juara dunia tinju kelas bantan versi IBF.

Yah, sudahlah.