heteroculture: sepak bola IBX583E46ECC8CCF
Showing posts with label sepak bola. Show all posts
Showing posts with label sepak bola. Show all posts

Jun 17, 2023

Orang dari Jauh

Ketika ada suatu peristiwa hadi di depan mata, saya suka memposisikan diri untuk berada di kejauhan. Lalu saya akan mengamati, memperhatikan, terkadang juga mengomentari dan menebak. Mengomentari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan, menebak apa yang seharusnya terjadi atau tidak terjadi. Lalu akan menyimpannya di bagian memori saya, yang mungkin suatu saat akan bermanfaat untuk saya panggil kembali ingatan itu.


Tidak semua orang senang berada di posisi yang saya sukai itu. Kebanyakan akan langsung berusaha untuk mendekat, menjadi dekat dan terlibat. Mungkin orang akan menganggap bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah bentuk ketidak pedulian saya, ketidak pekaan saya akan situasi di sekitar. Biarlah, hanya saya dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya. Dan saya merasa tidak perlu dan guna untuk mengoreksi apa yang orang lain pikirkan tentang saya.


Bahkan orang terdekat saya pun dengan jelas dan gamblang menyebut saya sebagai seorang "pengamat sosial yang anti sosial". Saya tidak membantah maupun tidak membenarkan.

by vectorstock

Saya jarang sekali menonton televisi, apalagi acara-acara yang berkaitan dengan gosip selebriti atau bahkan soal berita-berita viral yang bersliweran. Saya tidak begitu tertarik. Mungkin itu yang kadang membuat saya membatasi diri dalam hal njagong atau cangkruk, karena takut tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan. Tapi kalau ngobrol soal musik atau sepakbola masih sedikit-sedikit nyambung.


Bicara soal "anti sosial", saya jadi teringat dengan teman sekampung yang juga kebetulan satu angkatan dari SD sampai SMA, dia juga pernah menjuluki saya sebagai salah satu sosok yang "apatis".


Saya memang membatasi diri untuk tidak terlalu terlibat dengan hal-hal yang tidak saya kuasai dengan baik, saya tidak ingin melakukan blunder lalu menyebabkan gol bunuh diri yang akan membawa akibat yang fatal dan buruk terhadap saya juga orang lain.

Oct 31, 2016

[Mungkin] Saya Lebay



Saya tak ingat lagi kapan tepatnya, saat saya sempat "bersitegang" dengan bapak di rumah gara-gara sepakbola. Kok bisa? Ya, bisa saja.

Waktu itu timnas Indonesia sedang bertanding melawan Jepang, salah satu pemain yang masih saya ingat adalah Ricky Yakob sebagai salah seorang penyerangnya. Lalu apa yang membuat bersitegang?

Saya berpendapat bahwa kita harus tetap optimis bahwa kita bisa mengimbangi kesebelasan Jepang, tapi bapak bilang bahwa kita harus realistis dengan kemampuan kita. Sampai-sampai saya bawa-bawa soal nasionalisme segala, sementara bapak hanya terkekeh saja.

Beberapa hari lalu euphoria kembali menyeruak, yaitu ketika Rio Haryanto, menjadi satu-satunya pembalap dari Indonesia yang bisa membalap di lintasan F1, bahkan satu-satunya pembalap dari Asia.

Banyak dukungan dan simpati yang diberikan kepada Rio, tapi tak sedikit pula cibiran yang melayang kepadanya. Wajar, hidup di dunia penuh dengan banyak orang tentu banyak pula resiko yang harus dihadapi. Realistis adalah ketika kita berharap Rio bisa membalap sebaik-baiknya dan tentunya bisa mengukir prestasi di tim "kecil" yang dibelanya.

Sekian tahun ada balapan F1 saya hanya melirik sekilas saja, tapi ketika kemarin F1 disiarkan, bahkan saya merasakan antusias yang cukup besar. Apakah ini karena ada orang Indonesia yang ikut membalap? Entah.

Sudah lama saya tidak merasakan gairah seperti ketika Hendrawan menjadi penentu kemenangan tim bulutangkis (suer, ketika itu mata saya bahkan berkaca-kaca mau nangis), atau ketika mendengar nama Ellyas Pical disebut oleh ring announcer sebagai juara dunia tinju kelas bantan versi IBF.

Yah, sudahlah.