heteroculture: January 2017 IBX583E46ECC8CCF

Jan 29, 2017

Perkencingan

Sewaktu kecil, sering tiap kali ketika mau ikutan bergabung main dengan anak-anak yang tubuh dan usianya lebih besar dan tua, selalu saja tidak diperbolehkan karena dianggap belum "gedhe". Iseng saya bertanya tentang apa kriteria kalau seseorang itu sudah "gedhe", mereka lalu menjawab "wis geduk kuping lan nguyuhe lurus!" yang dalam bahasa  Indonesia adalah "tangannya sudah nyampai telinga dan kalau kencing lurus arahnya".

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar jawaban tersebut? Saya yakin, lain tempat pasti akan lain pula definisi atau ceritanya. Kalau di tempat saya, jauh di sebelah selatan kota Rembang, jawaban tersebut memang lazim saya temui di pergaulan di kampung saya. Bahkan kadang ada perlombaan terkait kencing di antara anak-anak sepermainan, yaitu lomba "jauh-jauhan" kencing, yang kencingnya paling jauh dia juaranya. 

Mungkin akan terasa aneh bagi yang tak pernah menemuinya, tapi bagi kami itu biasa saja.

***

Ini hanya soal biasa. Saya tak akan bicara soal agama atau apapun. Ini soal kebiasaan yang biasa saja, yang biasa dilakukan oleh orang biasa seperti saya. Soal apa? Pilihan antara kencing jongkok dan berdiri.

Saya pilih kencing dengan cara jongkok, pada situasi yang memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan, berdiripun tak soal. 

Bukan soal apa-apa. Hanya kalau dengan cara jongkok, saya merasa air seni yang keluar itu bisa tuntas dan klimaks. Tidak tersisa, rasanya.

Sekali lagi, ini bukan soal agama. Kalau anda mengikuti adab dan aturan agama, itu adalah pilihan anda sekalian. Saya gak ikut-ikutan dan bertanggung jawab tentangnya. 

Sekian.

Jan 28, 2017

Hiburan Ringan

"Film ini tidak mengandung pesan apapun. Kita memang tidak bisa belajar apapun dari film ini. Tapi film ini sangat lucu", kata Masha sewaktu menonton adegan kejar-kejaran antara kucing dan tikus di televisi pada salah satu episode film kartun Masha And The Bear.
(From Google)

Sewaktu menonton sebuah acara di televisi, kita mungkin terlalu tinggi meletakkan harapan di langit bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga untuk kita. Entah itu ilmu, pengetahuan, ataupun yang sejenisnya. Tapi kita mungkin lupa bahwa tidak semua acara dikemas untuk memberikan kita sepenuhnya ilmu, pengetahuan dan lain-lain yang sejenisnya. 

Ada acara yang dibuat hanya untuk tujuan hiburan semata, jangan harap kita akan menemukan pesan di dalamnya selain bahwa tujuannya untuk menghibur kita. Mungkin maksud dari si pembuat acara adalah ketika kita sedang down karena ditinggal pasangan di malam minggu, atau karena ditagih hutang padahal saat itu hujan lagi deras-derasnya dan genteng pada bocor, dengan melihat acara hiburan tadi, kita akan terbuai terlena dan sejenak lupa, dengan segala permasalahan yang kita punya.

"Suguhi kami dengan hiburan
gosip dan berita murahan
agar tak lagi terdengar keluhan
dari perut yang kelaparan

Cekoki kami dengan hiburan
pengalih segala perhatian
agar tak lagi ada pertanyaan
kebijakan yang salah sasaran"

2014
(Yudhie Yarcho; Hiburan; Antologi Puisi Membaca Jepara 2; 2016)

Dari puisi di atas pun dapat kita temukan hal serupa, bahwa di televisi saat ini banyak sekali acara-acara yang ditujukan untuk menghibur perasaan kita, yang sedang tertekan oleh segala beban hidup sehingga sejenak akan terasa ringan dan terlupakan. 

Tak perlu membayangkan bahwa kita (baca: rakyat) membutuhkan hiburan yang mahal untuk menghilangkan segala rasa suntuk dan bosan menghadapi hidup. Mungkin dengan melihat berita di televisi terkait isu politik atau kenegaraan pun bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kita. 

Dengan segala tingkah polah publik figur yang tersaji dan kita nikmati setiap hari, tanpa sadar membuat kita jadi bisa menertawakan kepedihan yang dialami, kesedihan yang dijalani. 

Bagaimana dengan anda?

Jan 15, 2017

Semua Berubah Sejak Pasukan Cilok Barokah Menyerang


Penjual Cilok Barokah Tasikmalaya

Di halaman pasar pagi, kalau sore berubah dari tempat parkir menjadi arena permainan anak-anak. Di atas trotoar, sudah penuh penjual pakaian. Tempat itu selalu ramai oleh pengunjung. Karena selain ada berbagai macam arena permainan, di sana juga ada deretan warung tenda kuliner, penjual siomay, bakso tusuk (kalau dalam bahasa kami biasa menyebutnya sate ojek), batagor, es kacang hijau, jagung bakar atau rebus, hanyalah sebagian dari ragam jenis makanan yang kami konsumsi hampir setiap kali kami jajan.

Di tempat lain selain halaman pasar pagi pun demikian. Misalnya, di sekitar lapangan sepakbola, pertigaan, halaman toko swalayan, dan tempat lainnya. Berbagai jenis makanan ringan serta minuman biasa kami telan tanpa pikir panjang. Tak peduli cuaca terik panas membakar atau hujan deras menerjang, kebiasaan njajan berbagai makanan tersebut tak bisa kami tinggalkan begitu saja. 

Kebiasaan itu sudah menjadi candu, mendarah daging. Kami tak bisa membayangkan apa yang akan kami lakukan tanpa ritual tersebut. 


Kegiatan yang berawal dari kebiasaan, kemudian menjadi ritual wajib yang selalu harus kami lakukan. Tak peduli habis gajian atau tanggal habis bulan, sama saja. Kami rela tidak membeli pakaian asalkan ritual tersebut tetap dapat kami jalankan. 

Bertahun-tahun sudah ritual itu kami lakukan, bahkan sudah sejak dari para pendahulu kami sebelumnya. Hingga anak keturunan kami akhirnya melanjutkan tradisi ritual njajan tersebut, tentunya dengan pilihan jenis makanan yang semakin bertambah. 

Lalu tibalah waktu yang kami takutkan akan terjadi. Kami tak lagi bisa leluasa menjalankan ritual jajan kami seperti biasa. 

Semenjak kedatangan pasukan itu, kami merasa seperti terintimidasi. Kami merasa diawasi, merasa dibatasi. Jenis-jenis jajanan yang biasa kami nikmati sekarang ini seperti sudah tidak punya daya tarik lagi. Rasanya tawar, pesonanya hambar.

Serangan yang begitu frontal dan menusuk langsung ke pusat kehidupan kami, begitu menyedot seluruh perhatian dan keinginan kami. Pasukan itu begitu fasih memainkan segala strategi yang dengan segera mampu meluluhlantakkan segala pertahanan kami. 

Semua orang, termasuk kami, tiba-tiba berpaling dari semua jajanan yang sebelumnya kami nikmati. Semua dengan sukarela atau terpaksa harus mau mengonsumsi jajanan jenis baru yang dibawa oleh pasukan itu. Seperti ada aturan yang menyeragamkan kami. Kami seperti robot yang dengan patuh menurut perintah dari pasukan itu. 

Semua berubah sejak pasukan itu menyerang. Kami harus sembunyi, jika ingin menjalankan ritual yang telah biasa kami lakukan. Entah sampai kapan hal ini akan terjadi.

Jan 5, 2017

Gak Jadi Nonton Video



Malam minggu, seperti biasa adalah waktu bagi anggota Genk Lelembut untuk berkumpul dan bercengkrama. Mereka selalu menghabiskan malam yang panjang dengan berbagai macam acara, nyate kelinci, nonton dangdut, minum limun sambil belagak mabuk, dan banyak lagi. 

Oh ya, perkenalkan dulu para anggota Genk Lelembut ini. Yang umurnya paling tua adalah Bongod, kemudian berurutan adalah Genter, Buto, Mink, Payman, Bulus, Gayok, Andik, dan Cemplon. Namun dalam kisah ini yang terlibat hanyalah empat nama pertama saja.

Soal nama Genk Lelembut ini adalah pemberian dari mas Kithut, anggota genk El Pramas, plesetan dari nama grup band El Pamas yang artinya adalah "Elek-elek Prapatan Mas". Nama Lelembut diberikan karena para anggotanya dianggap masih "lembut", bau kencur.


***

Sabtu siang, saya dan 3 orang anggota Genk Lelembut sepakat untuk pergi menonton hiburan tayangan video di desa tetangga nanti malam dengan menggunakan dua buah sepeda 

Di kampung sebelah ada orang punya hajat, punya kerja, bahasa  jawanya "nduwe gawe" menikahkan anaknya dengan nanggap tontonan video yang ditayangkan di layar tivi yang ukurannya agak besar.

Biasanya yang diputar adalah film-filmnya Rhoma Irama, Suzanna, film silat Barry Prima atau film komedi Warkop DKI. Dan, ini yang biasanya paling ditunggu, kalau waktu sudah menuju dini hari di mana para perempuan dan anak-anak sudah terlelap tidur, filmnya akan diganti dengan film yang agak-agak gimana gitu, semi vulgar.

Sehabis maghrib selesai nyetrika saya mengeluarkan sepeda jengki lalu menuju ke titik pertemuan yang telah ditentukan. Saya berboncengan dengan Bongod, Buto boncengan dengan Mink. Pertama-tama saya yang kebagian ngonthel, Bongod mbonceng. Sesampai di daerah Gersapi kami bertukar posisi. 

Kami berempat mengayuh sepeda penuh semangat, malam yang gelap tidak menjadi halangan. Bahkan meski harus melalui jalur keramat, jalur gawat.

Ketika sampai di jalan yang turunannya agak curam, dan tepat berada di daerah keramat, saya berkata kepada Bongod yang ada di posisi depan, "Katanya di sini ada kuburan mbah Kartosuwiryo ya?". Bongod langsung nyahut, "Hush, diam saja. Gak usah ngrasani. Nanti kualat kita!". Saya kemudian terdiam, sementara Buto dan Mink sudah melaju jauh di depan.

Akhirnya tibalah perjalanan di jalan yang menurun tajam, di gelapnya malam sepeda yang dikayuh Bongod lama-lama oleng. Dengan kecepatan tinggi sepeda melaju turun ke bawah, hampir sampai di jalan yang landai tiba-tiba, brakkkk gubrakkk!!! 

Bongod terjatuh terhimpit sepeda dengan luka memar di wajah , sementara saya luka memar di kaki dan pantat. 

Kami putuskan tidak jadi melanjutkan perjalanan, kami balik kanan: pulang. Setelah diobati sebisanya, saya pulang ke rumah. Sepeda saya parkirkan, langsung saya mapan: tidur dengan sekujur tubuh njarem semua kemulan sarung biar tidak konangan sama Bapak dan Ibu.

Pagi-pagi saya tetap bertugas untuk nyapu halaman dengan kaki terpincang-pincang, Ibu melihat tapi hanya diam saja. Sementara itu, Bongod pergi ke Balai Desa: untuk foto ktp dengan wajah memar seperti habis gelut dikeroyok preman se terminal!

***