heteroculture: sosial IBX583E46ECC8CCF
Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Jun 17, 2023

Orang dari Jauh

Ketika ada suatu peristiwa hadi di depan mata, saya suka memposisikan diri untuk berada di kejauhan. Lalu saya akan mengamati, memperhatikan, terkadang juga mengomentari dan menebak. Mengomentari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan, menebak apa yang seharusnya terjadi atau tidak terjadi. Lalu akan menyimpannya di bagian memori saya, yang mungkin suatu saat akan bermanfaat untuk saya panggil kembali ingatan itu.


Tidak semua orang senang berada di posisi yang saya sukai itu. Kebanyakan akan langsung berusaha untuk mendekat, menjadi dekat dan terlibat. Mungkin orang akan menganggap bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah bentuk ketidak pedulian saya, ketidak pekaan saya akan situasi di sekitar. Biarlah, hanya saya dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya. Dan saya merasa tidak perlu dan guna untuk mengoreksi apa yang orang lain pikirkan tentang saya.


Bahkan orang terdekat saya pun dengan jelas dan gamblang menyebut saya sebagai seorang "pengamat sosial yang anti sosial". Saya tidak membantah maupun tidak membenarkan.

by vectorstock

Saya jarang sekali menonton televisi, apalagi acara-acara yang berkaitan dengan gosip selebriti atau bahkan soal berita-berita viral yang bersliweran. Saya tidak begitu tertarik. Mungkin itu yang kadang membuat saya membatasi diri dalam hal njagong atau cangkruk, karena takut tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan. Tapi kalau ngobrol soal musik atau sepakbola masih sedikit-sedikit nyambung.


Bicara soal "anti sosial", saya jadi teringat dengan teman sekampung yang juga kebetulan satu angkatan dari SD sampai SMA, dia juga pernah menjuluki saya sebagai salah satu sosok yang "apatis".


Saya memang membatasi diri untuk tidak terlalu terlibat dengan hal-hal yang tidak saya kuasai dengan baik, saya tidak ingin melakukan blunder lalu menyebabkan gol bunuh diri yang akan membawa akibat yang fatal dan buruk terhadap saya juga orang lain.

Dec 13, 2016

Sulang dan Budaya Ngopi

Ilustrasi foto dari sulang.wordpress.com

Menikmati segelas kopi hitam sambil me’lelet’kan ampas kopi halus ke rokok sudah merupakan pemandangan yang lazim/lumrah ditemui di warung-warung kopi di sekitar Sulang.

--------


Sejak lama, anak-anak muda Sulang senang melakukan aktivitas berkumpul, yang untuk selanjutnya disebut nongkrong. Komunitas nongkrong ini, tidak hanya berasal dari satu generasi saja, tetapi lintas generasi. Ada yang merupakan teman di sekolah, teman sepermainan, ada juga guru dan muridnya. Dalam komunitas ini, semua atribut hilang, lebur. Semua sama, setara.

Kegiatan nongkrong ini menimbulkan gagasan dari ‘seseorang’ yang berinisiatif untuk membuat sarana untuk tempat nongkrong yang lebih representatif, yaitu dengan mendirikan warung kopi.

Hal ini terjadi kira-kira di era 90-an, yang waktu itu lagi booming Play Station, rentalan VCD dan Piala Dunia (untuk mengetahui kapan dan siapa yang pertama kali mempopulerkan warung kopi, perlu diadakan riset lebih lanjut).

Dengan berdirinya warung kopi, aktivis nongkrong akhirnya mendapatkan tempat ‘berlabuh’ yang lebih baik dari pada sebelumnya yang (mungkin) hanya bergerombol di ujung-ujung jalan, atau bahkan di pos ronda.

Dilengkapi dengan fasilitas game PS, membuat aktivis nongkrong ini menjadi lebih betah untuk berlama-lama berada di warung kopi, meski hanya dengan ditemani segelas kopi. Kadang, aktivitas nongkrong juga di barengi dengan acara nonton bareng pertandingan sepakbola, yang diakses melalui layar televisi yang telah tersedia.

Pada perjalanannya, keberadaan warung kopi sempat juga mengalami pasang surut. Ada yang terpaksa tutup karena terjadi ‘mis management’, atau karena si ‘owner’nya pindah domisili. Tetapi ada juga yang mengalami perkembangan setelah di’take over’ alias terjadi pergantian pengelolaan.

Dalam benak dan angan-angan saya, aktivitas ngopi ini bisa menjadi sarana untuk transfer teknologi, sarana untuk saling berbagi informasi dan pendapat. Entah itu mendukung atau bahkan meng’kritisi kondisi bangsa ini (dalam lingkup yang lebih khusus, keadaan Sulang).



Warung kopi menjadi tempat bertemunya para intelektual muda Sulang lulusan Yogya, Semarang atau kota lain, dan menularkan pengetahuannya kepada aktivis nongkrong yang tetap tinggal di Sulang, yang semua tetap bermuara pada satu hal, kemajuan Sulang itu sendiri.


Sekian.

--------
Keterangan:
Sulang, sebuah desa di Selatan kota Rembang, Jawa Tengah.