heteroculture: 2017 IBX583E46ECC8CCF

Oct 24, 2017

Nikmat Kopi di Lidahmu

Vietnam Drip
Seorang teman saya namanya Abdul, biasa dipanggil Doel, termasuk seorang peminum kopi kelas berat. Tiap hari dia selalu minum minimal 2 gelas kopi di tempat kerja, di pagi dan siang hari.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya apakah pernah dia tidak ngopi seharian dan apa yang dirasakan? Jawabnya, "Pernah. Rasanya konsentrasi menjadi berkurang!"

Kopi yang biasa dikonsumsi adalah kopi sachetan yang praktis untuk proses penyeduhannya, dan mungkin karena kepraktisannya itulah kopi sachet memiliki banyak sekali penggemar. Dan bagi mereka yang menggemarinya tidak pernah terpikirkan persoalan apakah itu kopi murni, Arabica-Robusta, atau bahkan perisa kopi. Yang penting ngopi, itu saja.


***

Lain si Doel lain pula dengan Zuliant, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jepara. Dia dulunya sering mengkonsumsi kopi sachet seperti Doel, tapi setelah sempat mencicipi posisi menjadi seorang barista di salah satu kedai kopi di Jepara, Zuliant langsung balik kanan berpaling kepada kopi giling.

Zuliant sering mengonsumsi kopi single origin dengan metode menggunakan filter V-60. Bahkan karena saking gemarnya, dia sampai membeli alat-alat seduh kopi sendiri. Dia juga sering berbelanja kopi dari berbagai daerah, jenis kopi yang disukainya adalah jenis Arabica.

Sekarang ini Zuliant bahkan sampai berani mengharamkan kopi sachetan, menurutnya kopi sachet itu bukan kopi tetapi minuman yang beraroma dan berasa kopi.

Lagi-lagi itu soal pilihan. Bagaimana cara anda menyeduh kopi, maupun jenis kopi yang anda minum, soal rasa tetap ada pada lidah anda sendiri.

Mau jenis Arabica atau Robusta atau campuran dari kedua jenis kopi tersebut, atau kopi sachet, itu terserah anda sendiri. Apakah kopi akan anda olah dengan cara espresso, americano, vietnam drip, atau tubruk sekalipun, tetap lidah anda yang akan mengatakan nikmat atau tidaknya kopi. Bukan lidah orang lain.


Sep 25, 2017

Desaku Berubah

pixabay.com

Hari ini aku diajak jalan-jalan oleh cucuku, dimulai dengan melewati jalan yang sudah terang benderang oleh nyala lampu.Lantas aku teringat dan membandingkan dengan keadaan dulu, yang masih gelap sebagian, karena terbatasnya listrik. Sehingga tiap kali ada suatu daerah yang gelap, beredarlah dari mulut ke mulut sebuah cerita yang seram dan menakutkan.

Langit sekarang sudah dipenuhi dengan tower-tower antena penyedia layanan telekomunikasi. Dahulu, untuk berkomunikasi, orang hanya bisa lewat surat atau telegram yang dikirim melalui jasa pos. Sekarang, orang semakin mudah berkomunikasi, bisa melalui telepon, sms, atau bahkan chatting.

Sekarang di depan kantor walikota [dahulu adalah kantor kecamatan] sudah berdiri ruko-ruko dengan berbagai outlet yang menawarkan berbagai macam produk; jasa telekomunikasi, warung internet, game, kuliner, dan lain-lain.

Anak-anak sekarang sudah tidak ada lagi yang bermain 'benthik-sepongan-bagsodor-betengan-layangan-nekeran'. Sekarang, semua permainan sudah serba instan-serba digital, tinggal klik, maka tersajilah semua. 

Ah, aku jadi kangen dengan nostalgia masa lampau.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "masihkah anak-anak sekarang mengingat pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan negara ini?, ataukah yang sekarang ada di pikiran mereka hanya tokoh-tokoh kartun dari negeri asing, seperti yang sekarang banyak tersaji di layar televisi?"

Melewati depan sebuah rumah makan cepat saji [dulu adalah warungnya nasi pecel], dekat portal, tempat kami dulu sering nongkrong menunggu anak-anak SMA lewat, kulihat rumah makan ini demikian padat pengunjung. 

Orang-orang sudah berubah menjadi konsumtif, mungkin karena saking banyaknya insentif yang diberikan oleh pemerintah, atau memang karena negara ini sudah cukup makmur.

Keadaan demikian cepat berubah. Dulu, kami begitu susah untuk memenuhi keinginan bermain musik, sekarang studio sudah begitu banyak tersedia. Dulu, untuk pergi ke keramaian kota saja begitu sulit aksesnya, sekarang tak usah kemana-mana, di pusat kota [dulu adalah lapangan sepakbola] sudah berdiri dengan megahnya sebuah pusat perbelanjaan, yang siap menyajikan segala macam bentuk hedonisme.

Ah, rasanya aku sudah lelah mengikuti perjalanan ini, hingga tak terasa aku tertidur, dan terkejut ketika dibangunkan oleh cucuku.

Ternyata, semua itu tadi hanya mimpiku saja. Desa ini masih sama dengan lima-sepuluh tahun yang lalu, masih saja bermasalah dengan air, kekeringan, dan sebagainya. Walaupun sudah berganti-ganti pucuk pimpinan pemerintahan, tetapi pembangunan dan kemajuan yang diharapkan seakan berjalan dengan lambat. Entah sampai kapan.

Jun 25, 2017

Lebaran di Kampung Halaman

Menjelang Lebaran.
Suasana benar-benar ramai, orang-orang sibuk. Dari tiap-tiap dukuh/dusun nampak beberapa kelompok orang mendandani dan menyulap truk yang biasanya buat mengangkut kontainer untuk diubah menjadi sarana takbir keliling. 

Ada yang menghias menggunakan kembang -kembang beneran atau kembang kertas, janur -daun nyiur yang masih muda-, juga dengan hiasan yang lain. Dibuat berbagai macam bentuk: kubah masjid, onta, atau rumah-rumahan. Disediakan juga tempat untuk alat musik, baik seperangkat alat band maupun kentongan dan rebana.

Ya, menjelang lebaran selalu dimeriahkan dengan perayaan takbir keliling, yang merupakan salah satu sarana hiburan bagi warga, baik yang berdomisili setempat maupun yang baru mudik dari perantauan. 

Bisa dipastikan ketika proses takbir keliling ini berlangsung, suasana menjadi riuh dengan gema suara takbir yang ditimpali bebunyian musik -modern maupun tradisional- juga suara mercon dan kembang api. Dapat dipastikan juga jalanan akan menjadi macet.

Setelah Shalat Id.
Sesampai di rumah usai shalat di Masjid Agung, kami lantas mempersiapkan diri untuk berangkat ke Langgar -semacam surau kecil atau mushola-. Ada ritual kenduri di sana.

Masing-masing keluarga membawa ambengan atau berkat, yang berupa nasi dan lauk pauknya. Ada yang diwadahi nampan, ada yang diwadahi besek. Nanti setelah didoakan oleh tetua kampung dan pak kyai, ambengan tersebut akan ditukar-tukarkan dengan milik tetangga satu sama lain. Tapi terlebih dahulu ada semacam ceramah tentang kerukunan umat maupun kisah-kisah nabi.

Setelah kenduri selesai, orang-orang sibuk dengan agendanya masing-masing. Ada yang ziarah ke kubur leluhur, ada yang langsung silaturahmi dengan tetangga sekitar. 

Acara silaturahmi dengan saling berkunjung ke tetangga ini seringkali diramaikan oleh anak-anak kecil yang setelah bersalam-salaman meminta maaf dan memaafkan, mereka juga mengharapkan mendapat semacam angpao, terutama dari mereka-mereka yang mudik dari perantauan dan dipandang sukses usaha yang dijalankannya. 

Hal ini akan berlangsung selama 1-3 hari, karena setelah itu biasanya orang-orang akan berkunjung ke sanak saudaranya yang tinggalnya agak jauh dari kampung. 
Bagaimana dengan kampungmu?

Mar 16, 2017

Coretan Di Dinding

Coretan dinding membuat resah
Resah hati pencoret
Mungkin ingin tampil
Tapi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok di tiap tempat sampah, di tiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama sama resah 


(Coretan Dinding, Iwan Fals)

Dari lirik lagu Coretan Dinding yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals, bisa ditafsirkan bahwa sebuah coretan di dinding, yang biasanya ada di tembok-tembok bangunan di kota, adalah sebuah ungkapan untuk mengekspresikan diri dikarenakan saluran yang semestinya ada untuk menyuarakannya tersumbat atau tertutup.

[Dok. Pribadi]
Sehingga orang-orang ini butuh sarana lain untuk dapat menyuarakan keinginan hatinya, baik berupa harapan, pujian ataupun protes terhadap keadaan yang saat ini dirasakan dan menimbulkan ketidak puasan dari beberapa pihak.


Selain untuk menyuarakan protes atas kebijakan-kebijakan dari pemerintah, coretan dinding ini bisa juga menjadi media seni, yang dalam hal ini adalah dengan menjadikan dinding sebagai media untuk melukis atau menggambar.
 

Sering di berbagai kota, pihak pemerintah memfasilitasi kegiatan tersebut dengan tujuan untuk menjadikan “seni lukis dinding” ini menjadi suatu daya tarik tersendiri terhadap kota yang ditinggali. Bahkan ada yang sampai membuat lomba melukis dinding untuk menghias suatu bangunan atau gedung yang merupakan ikon dari kota tersebut.

[Dok. Pribadi]
Kecenderungan di masa sekarang, oleh para pelaku yang umumnya masih berusia remaja, mereka melakukan coret dinding untuk menunjukkan eksistensi mereka, dengan mencoretkan inisial nama kelompoknya, logo kelompoknya dan berbagai bentuk lain sesuai keinginannya.


Menanggapi hal ini, sudah pasti ada yang pro dan kontra. Bahkan pernah di Semarang, karena hal ini sudah dianggap sebagai salah satu bentuk vandalism dan merusak keindahan kota, pihak pemerintah kota sampai harus menghapus coretan-coretan tersebut untuk mengembalikan ke bentuk semula.

Pada akhirnya, keindahan kota sudah semestinya dijaga agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang bisa memperburuk citra sebuah kota dan penghuninya, namun seni coretan dinding juga merupakan salah satu bentuk berekspresi yang patut mendapatkan apresiasi.


***

Feb 10, 2017

Mbah Mik dan Kebun Kelapa

Saya mengenalnya dengan nama Mbah Mik begitu saja, tidak pernah tahu nama sebenarnya. Seorang perempuan tua seumuran dengan nenek, yang setiap subuh berangkat ke pasar menjajakan dagangannya berupa empon-empon dan bumbu-bumbu lainnya.

Mbah Mik ini tinggal sekampung dengan saya tapi beda RT, beliau tinggal di RT 2 sedangkan saya di RT 1. Setiap kali Mbah Mik berangkat ke pasar selalu lewat jalan depan rumah.

Rute yang harus dilewati Mbah Mik adalah dengan melalui kebun kelapa, karena memang itu jalur terdekat agar cepat sampai ke pasar. Kebun kelapa yang banyak ditumbuhi pohon kelapa ketika malam gelap terlihat sepi dan mengerikan. Pohon kelapa yang menjulang seperti raksasa yang siap menerkam siapa saja yang melewatinya. 

Kisah berikut ini kudengar dari kasak-kusuk yang beredar diantara para tetangga, yang melibatkan Mbah Mik dan kebun kelapa itu.

***

Suatu pagi, seperti biasa saban subuh Mbah Mik berangkat ke pasar dengan melewati jalan depan rumah terus melintasi kebun kelapa. 

Suasana masih gelap, masih belum banyak orang yang berlalu lalang di jalan. Mbah Mik berjalan pelan dengan menggendong dunak di punggungnya. 

Ketika sampai di kebun kelapa, sebenarnya perasaan Mbah Mik terasa tidak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, yang membuatnya gentar melalui kebun kelapa.Tapi keinginan untuk segera sampai di pasar menguatkan tekatnya untuk tetap berjalan menembus kebun kelapa.

Lalu terdengar suara buah kelapa terjatuh di dekat Mbah Mik. Gedebug! Dengan senter kecil yang dipegangnya disorotnya ke arah bunyi terjatuh tadi. Sorotannya mengenai sebutir buah kelapa yang kulitnya berwarna coklat tua, dan segeralah diambilnya lalu ditaruh di dunak yang digendongnya. Pikirnya, "Siapa tahu bisa dijual nanti di pasar". 

Mbah Mik kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar, namun dia merasakan keanehan pada dunak yang digendongnya. Gendongannya kali ini terasa lebih berat daripada saat berangkat dari rumah tadi, bahkan makin lama makin terasa berat.

Mbah Mik berhenti sejenak, kemudian menurunkan dunak dari punggungnya. Pandangan matanya tertuju pada buah kelapa yang tadi dipungutnya di kebun kelapa. 

Buah yang tadi berwarna coklat tua, berubah menjadi berwarna merah menyala seperti api. Dan tiba-tiba muncul kilatan-kilatan api berbentuk seperti rambut. Kemudian terdengar suara tertawa yang menusuk-nusuk telinga Mbah Mik.

Mbah Mik langsung lari kencang meninggalkan dunaknya di kebun kelapa, sambil komat-kamit membaca doa sebisanya. Mbah Mik baru berhenti ketika larinya sudah sampai di depan pasar.

Salah seorang teman sesama pedagang melihat Mbah Mik yang badannya basah kuyup berkeringat dan pucat wajahnya lalu bertanya, "Ada apa mbah? Mana daganganmu?"

Sambil sesekali terengah nafasnya, Mbah Mik menjawab "Ada gundul pringis di kebun kelapa! Dunakku tak tinggal di sana!".

-selesai-

Jan 29, 2017

Perkencingan

Sewaktu kecil, sering tiap kali ketika mau ikutan bergabung main dengan anak-anak yang tubuh dan usianya lebih besar dan tua, selalu saja tidak diperbolehkan karena dianggap belum "gedhe". Iseng saya bertanya tentang apa kriteria kalau seseorang itu sudah "gedhe", mereka lalu menjawab "wis geduk kuping lan nguyuhe lurus!" yang dalam bahasa  Indonesia adalah "tangannya sudah nyampai telinga dan kalau kencing lurus arahnya".

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar jawaban tersebut? Saya yakin, lain tempat pasti akan lain pula definisi atau ceritanya. Kalau di tempat saya, jauh di sebelah selatan kota Rembang, jawaban tersebut memang lazim saya temui di pergaulan di kampung saya. Bahkan kadang ada perlombaan terkait kencing di antara anak-anak sepermainan, yaitu lomba "jauh-jauhan" kencing, yang kencingnya paling jauh dia juaranya. 

Mungkin akan terasa aneh bagi yang tak pernah menemuinya, tapi bagi kami itu biasa saja.

***

Ini hanya soal biasa. Saya tak akan bicara soal agama atau apapun. Ini soal kebiasaan yang biasa saja, yang biasa dilakukan oleh orang biasa seperti saya. Soal apa? Pilihan antara kencing jongkok dan berdiri.

Saya pilih kencing dengan cara jongkok, pada situasi yang memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan, berdiripun tak soal. 

Bukan soal apa-apa. Hanya kalau dengan cara jongkok, saya merasa air seni yang keluar itu bisa tuntas dan klimaks. Tidak tersisa, rasanya.

Sekali lagi, ini bukan soal agama. Kalau anda mengikuti adab dan aturan agama, itu adalah pilihan anda sekalian. Saya gak ikut-ikutan dan bertanggung jawab tentangnya. 

Sekian.

Jan 28, 2017

Hiburan Ringan

"Film ini tidak mengandung pesan apapun. Kita memang tidak bisa belajar apapun dari film ini. Tapi film ini sangat lucu", kata Masha sewaktu menonton adegan kejar-kejaran antara kucing dan tikus di televisi pada salah satu episode film kartun Masha And The Bear.
(From Google)

Sewaktu menonton sebuah acara di televisi, kita mungkin terlalu tinggi meletakkan harapan di langit bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga untuk kita. Entah itu ilmu, pengetahuan, ataupun yang sejenisnya. Tapi kita mungkin lupa bahwa tidak semua acara dikemas untuk memberikan kita sepenuhnya ilmu, pengetahuan dan lain-lain yang sejenisnya. 

Ada acara yang dibuat hanya untuk tujuan hiburan semata, jangan harap kita akan menemukan pesan di dalamnya selain bahwa tujuannya untuk menghibur kita. Mungkin maksud dari si pembuat acara adalah ketika kita sedang down karena ditinggal pasangan di malam minggu, atau karena ditagih hutang padahal saat itu hujan lagi deras-derasnya dan genteng pada bocor, dengan melihat acara hiburan tadi, kita akan terbuai terlena dan sejenak lupa, dengan segala permasalahan yang kita punya.

"Suguhi kami dengan hiburan
gosip dan berita murahan
agar tak lagi terdengar keluhan
dari perut yang kelaparan

Cekoki kami dengan hiburan
pengalih segala perhatian
agar tak lagi ada pertanyaan
kebijakan yang salah sasaran"

2014
(Yudhie Yarcho; Hiburan; Antologi Puisi Membaca Jepara 2; 2016)

Dari puisi di atas pun dapat kita temukan hal serupa, bahwa di televisi saat ini banyak sekali acara-acara yang ditujukan untuk menghibur perasaan kita, yang sedang tertekan oleh segala beban hidup sehingga sejenak akan terasa ringan dan terlupakan. 

Tak perlu membayangkan bahwa kita (baca: rakyat) membutuhkan hiburan yang mahal untuk menghilangkan segala rasa suntuk dan bosan menghadapi hidup. Mungkin dengan melihat berita di televisi terkait isu politik atau kenegaraan pun bisa menjadi hiburan tersendiri bagi kita. 

Dengan segala tingkah polah publik figur yang tersaji dan kita nikmati setiap hari, tanpa sadar membuat kita jadi bisa menertawakan kepedihan yang dialami, kesedihan yang dijalani. 

Bagaimana dengan anda?

Jan 15, 2017

Semua Berubah Sejak Pasukan Cilok Barokah Menyerang


Penjual Cilok Barokah Tasikmalaya

Di halaman pasar pagi, kalau sore berubah dari tempat parkir menjadi arena permainan anak-anak. Di atas trotoar, sudah penuh penjual pakaian. Tempat itu selalu ramai oleh pengunjung. Karena selain ada berbagai macam arena permainan, di sana juga ada deretan warung tenda kuliner, penjual siomay, bakso tusuk (kalau dalam bahasa kami biasa menyebutnya sate ojek), batagor, es kacang hijau, jagung bakar atau rebus, hanyalah sebagian dari ragam jenis makanan yang kami konsumsi hampir setiap kali kami jajan.

Di tempat lain selain halaman pasar pagi pun demikian. Misalnya, di sekitar lapangan sepakbola, pertigaan, halaman toko swalayan, dan tempat lainnya. Berbagai jenis makanan ringan serta minuman biasa kami telan tanpa pikir panjang. Tak peduli cuaca terik panas membakar atau hujan deras menerjang, kebiasaan njajan berbagai makanan tersebut tak bisa kami tinggalkan begitu saja. 

Kebiasaan itu sudah menjadi candu, mendarah daging. Kami tak bisa membayangkan apa yang akan kami lakukan tanpa ritual tersebut. 


Kegiatan yang berawal dari kebiasaan, kemudian menjadi ritual wajib yang selalu harus kami lakukan. Tak peduli habis gajian atau tanggal habis bulan, sama saja. Kami rela tidak membeli pakaian asalkan ritual tersebut tetap dapat kami jalankan. 

Bertahun-tahun sudah ritual itu kami lakukan, bahkan sudah sejak dari para pendahulu kami sebelumnya. Hingga anak keturunan kami akhirnya melanjutkan tradisi ritual njajan tersebut, tentunya dengan pilihan jenis makanan yang semakin bertambah. 

Lalu tibalah waktu yang kami takutkan akan terjadi. Kami tak lagi bisa leluasa menjalankan ritual jajan kami seperti biasa. 

Semenjak kedatangan pasukan itu, kami merasa seperti terintimidasi. Kami merasa diawasi, merasa dibatasi. Jenis-jenis jajanan yang biasa kami nikmati sekarang ini seperti sudah tidak punya daya tarik lagi. Rasanya tawar, pesonanya hambar.

Serangan yang begitu frontal dan menusuk langsung ke pusat kehidupan kami, begitu menyedot seluruh perhatian dan keinginan kami. Pasukan itu begitu fasih memainkan segala strategi yang dengan segera mampu meluluhlantakkan segala pertahanan kami. 

Semua orang, termasuk kami, tiba-tiba berpaling dari semua jajanan yang sebelumnya kami nikmati. Semua dengan sukarela atau terpaksa harus mau mengonsumsi jajanan jenis baru yang dibawa oleh pasukan itu. Seperti ada aturan yang menyeragamkan kami. Kami seperti robot yang dengan patuh menurut perintah dari pasukan itu. 

Semua berubah sejak pasukan itu menyerang. Kami harus sembunyi, jika ingin menjalankan ritual yang telah biasa kami lakukan. Entah sampai kapan hal ini akan terjadi.

Jan 5, 2017

Gak Jadi Nonton Video



Malam minggu, seperti biasa adalah waktu bagi anggota Genk Lelembut untuk berkumpul dan bercengkrama. Mereka selalu menghabiskan malam yang panjang dengan berbagai macam acara, nyate kelinci, nonton dangdut, minum limun sambil belagak mabuk, dan banyak lagi. 

Oh ya, perkenalkan dulu para anggota Genk Lelembut ini. Yang umurnya paling tua adalah Bongod, kemudian berurutan adalah Genter, Buto, Mink, Payman, Bulus, Gayok, Andik, dan Cemplon. Namun dalam kisah ini yang terlibat hanyalah empat nama pertama saja.

Soal nama Genk Lelembut ini adalah pemberian dari mas Kithut, anggota genk El Pramas, plesetan dari nama grup band El Pamas yang artinya adalah "Elek-elek Prapatan Mas". Nama Lelembut diberikan karena para anggotanya dianggap masih "lembut", bau kencur.


***

Sabtu siang, saya dan 3 orang anggota Genk Lelembut sepakat untuk pergi menonton hiburan tayangan video di desa tetangga nanti malam dengan menggunakan dua buah sepeda 

Di kampung sebelah ada orang punya hajat, punya kerja, bahasa  jawanya "nduwe gawe" menikahkan anaknya dengan nanggap tontonan video yang ditayangkan di layar tivi yang ukurannya agak besar.

Biasanya yang diputar adalah film-filmnya Rhoma Irama, Suzanna, film silat Barry Prima atau film komedi Warkop DKI. Dan, ini yang biasanya paling ditunggu, kalau waktu sudah menuju dini hari di mana para perempuan dan anak-anak sudah terlelap tidur, filmnya akan diganti dengan film yang agak-agak gimana gitu, semi vulgar.

Sehabis maghrib selesai nyetrika saya mengeluarkan sepeda jengki lalu menuju ke titik pertemuan yang telah ditentukan. Saya berboncengan dengan Bongod, Buto boncengan dengan Mink. Pertama-tama saya yang kebagian ngonthel, Bongod mbonceng. Sesampai di daerah Gersapi kami bertukar posisi. 

Kami berempat mengayuh sepeda penuh semangat, malam yang gelap tidak menjadi halangan. Bahkan meski harus melalui jalur keramat, jalur gawat.

Ketika sampai di jalan yang turunannya agak curam, dan tepat berada di daerah keramat, saya berkata kepada Bongod yang ada di posisi depan, "Katanya di sini ada kuburan mbah Kartosuwiryo ya?". Bongod langsung nyahut, "Hush, diam saja. Gak usah ngrasani. Nanti kualat kita!". Saya kemudian terdiam, sementara Buto dan Mink sudah melaju jauh di depan.

Akhirnya tibalah perjalanan di jalan yang menurun tajam, di gelapnya malam sepeda yang dikayuh Bongod lama-lama oleng. Dengan kecepatan tinggi sepeda melaju turun ke bawah, hampir sampai di jalan yang landai tiba-tiba, brakkkk gubrakkk!!! 

Bongod terjatuh terhimpit sepeda dengan luka memar di wajah , sementara saya luka memar di kaki dan pantat. 

Kami putuskan tidak jadi melanjutkan perjalanan, kami balik kanan: pulang. Setelah diobati sebisanya, saya pulang ke rumah. Sepeda saya parkirkan, langsung saya mapan: tidur dengan sekujur tubuh njarem semua kemulan sarung biar tidak konangan sama Bapak dan Ibu.

Pagi-pagi saya tetap bertugas untuk nyapu halaman dengan kaki terpincang-pincang, Ibu melihat tapi hanya diam saja. Sementara itu, Bongod pergi ke Balai Desa: untuk foto ktp dengan wajah memar seperti habis gelut dikeroyok preman se terminal!

***