heteroculture IBX583E46ECC8CCF

Jan 2, 2018

Buanglah Mantan Pada Tempatnya

"Wah ada sampah. Ada daun, ada plastik, ada bebek.", demikian celoteh Aleyya anak perempuan saya sewaktu kapal motor yang kami tumpangi melewati sekumpulan sampah yang mengapung di tengah laut.

Bagi sebagian (=besar?) orang, laut bisa menjadi semacam penampungan besar segala hal yang dianggap sudah tidak berguna lagi. Mulai dari bekas bungkus makanan dan minuman, popok bayi bahkan juga mantan, mungkin.

Di sekitar kita, tidak hanya di laut, sampah berceceran di berbagai tempat. Di jalan, orang membuang sampahnya begitu saja dan seenaknya dari jendela kendaraan. Di kampung, orang membuang sampah di selokan atau di kali, yang bukan tidak mungkin alirannya akan bermuara ke laut, dan suatu ketika akan berbalik lagi ke daratan. Lihat saja di pinggir-pinggir pantai.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya tidak bisa dilakukan dengan mudah, mungkin faktor terbesar adalah kesadaran dan kemauan dari diri sendiri untuk memulai. Dan hal itu sebenarnya bisa diperkenalkan sejak dini melalui pendidikan dan pemberian contoh kepada anak-anak kita.

Anak-anak akan dengan mudah meniru setiap perilaku atau perbuatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitar mereka. Jika yang dilihat oleh mereka adalah perbuatan baik, di antaranya membuang sampah pada tempatnya, maka bolehlah kita merasa optimis akan kelangsungan negeri ini di tangan mereka. 

Sudah siapkah kita tidak membuang sampah sembarangan?

[selesai]

Oct 24, 2017

Nikmat Kopi di Lidahmu

Vietnam Drip
Seorang teman saya namanya Abdul, biasa dipanggil Doel, termasuk seorang peminum kopi kelas berat. Tiap hari dia selalu minum minimal 2 gelas kopi di tempat kerja, di pagi dan siang hari.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya apakah pernah dia tidak ngopi seharian dan apa yang dirasakan? Jawabnya, "Pernah. Rasanya konsentrasi menjadi berkurang!"

Kopi yang biasa dikonsumsi adalah kopi sachetan yang praktis untuk proses penyeduhannya, dan mungkin karena kepraktisannya itulah kopi sachet memiliki banyak sekali penggemar. Dan bagi mereka yang menggemarinya tidak pernah terpikirkan persoalan apakah itu kopi murni, Arabica-Robusta, atau bahkan perisa kopi. Yang penting ngopi, itu saja.


***

Lain si Doel lain pula dengan Zuliant, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jepara. Dia dulunya sering mengkonsumsi kopi sachet seperti Doel, tapi setelah sempat mencicipi posisi menjadi seorang barista di salah satu kedai kopi di Jepara, Zuliant langsung balik kanan berpaling kepada kopi giling.

Zuliant sering mengonsumsi kopi single origin dengan metode menggunakan filter V-60. Bahkan karena saking gemarnya, dia sampai membeli alat-alat seduh kopi sendiri. Dia juga sering berbelanja kopi dari berbagai daerah, jenis kopi yang disukainya adalah jenis Arabica.

Sekarang ini Zuliant bahkan sampai berani mengharamkan kopi sachetan, menurutnya kopi sachet itu bukan kopi tetapi minuman yang beraroma dan berasa kopi.

Lagi-lagi itu soal pilihan. Bagaimana cara anda menyeduh kopi, maupun jenis kopi yang anda minum, soal rasa tetap ada pada lidah anda sendiri.

Mau jenis Arabica atau Robusta atau campuran dari kedua jenis kopi tersebut, atau kopi sachet, itu terserah anda sendiri. Apakah kopi akan anda olah dengan cara espresso, americano, vietnam drip, atau tubruk sekalipun, tetap lidah anda yang akan mengatakan nikmat atau tidaknya kopi. Bukan lidah orang lain.


Sep 25, 2017

Desaku Berubah

pixabay.com

Hari ini aku diajak jalan-jalan oleh cucuku, dimulai dengan melewati jalan yang sudah terang benderang oleh nyala lampu.Lantas aku teringat dan membandingkan dengan keadaan dulu, yang masih gelap sebagian, karena terbatasnya listrik. Sehingga tiap kali ada suatu daerah yang gelap, beredarlah dari mulut ke mulut sebuah cerita yang seram dan menakutkan.

Langit sekarang sudah dipenuhi dengan tower-tower antena penyedia layanan telekomunikasi. Dahulu, untuk berkomunikasi, orang hanya bisa lewat surat atau telegram yang dikirim melalui jasa pos. Sekarang, orang semakin mudah berkomunikasi, bisa melalui telepon, sms, atau bahkan chatting.

Sekarang di depan kantor walikota [dahulu adalah kantor kecamatan] sudah berdiri ruko-ruko dengan berbagai outlet yang menawarkan berbagai macam produk; jasa telekomunikasi, warung internet, game, kuliner, dan lain-lain.

Anak-anak sekarang sudah tidak ada lagi yang bermain 'benthik-sepongan-bagsodor-betengan-layangan-nekeran'. Sekarang, semua permainan sudah serba instan-serba digital, tinggal klik, maka tersajilah semua. 

Ah, aku jadi kangen dengan nostalgia masa lampau.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "masihkah anak-anak sekarang mengingat pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan negara ini?, ataukah yang sekarang ada di pikiran mereka hanya tokoh-tokoh kartun dari negeri asing, seperti yang sekarang banyak tersaji di layar televisi?"

Melewati depan sebuah rumah makan cepat saji [dulu adalah warungnya nasi pecel], dekat portal, tempat kami dulu sering nongkrong menunggu anak-anak SMA lewat, kulihat rumah makan ini demikian padat pengunjung. 

Orang-orang sudah berubah menjadi konsumtif, mungkin karena saking banyaknya insentif yang diberikan oleh pemerintah, atau memang karena negara ini sudah cukup makmur.

Keadaan demikian cepat berubah. Dulu, kami begitu susah untuk memenuhi keinginan bermain musik, sekarang studio sudah begitu banyak tersedia. Dulu, untuk pergi ke keramaian kota saja begitu sulit aksesnya, sekarang tak usah kemana-mana, di pusat kota [dulu adalah lapangan sepakbola] sudah berdiri dengan megahnya sebuah pusat perbelanjaan, yang siap menyajikan segala macam bentuk hedonisme.

Ah, rasanya aku sudah lelah mengikuti perjalanan ini, hingga tak terasa aku tertidur, dan terkejut ketika dibangunkan oleh cucuku.

Ternyata, semua itu tadi hanya mimpiku saja. Desa ini masih sama dengan lima-sepuluh tahun yang lalu, masih saja bermasalah dengan air, kekeringan, dan sebagainya. Walaupun sudah berganti-ganti pucuk pimpinan pemerintahan, tetapi pembangunan dan kemajuan yang diharapkan seakan berjalan dengan lambat. Entah sampai kapan.

Jun 25, 2017

Lebaran di Kampung Halaman

Menjelang Lebaran.
Suasana benar-benar ramai, orang-orang sibuk. Dari tiap-tiap dukuh/dusun nampak beberapa kelompok orang mendandani dan menyulap truk yang biasanya buat mengangkut kontainer untuk diubah menjadi sarana takbir keliling. 

Ada yang menghias menggunakan kembang -kembang beneran atau kembang kertas, janur -daun nyiur yang masih muda-, juga dengan hiasan yang lain. Dibuat berbagai macam bentuk: kubah masjid, onta, atau rumah-rumahan. Disediakan juga tempat untuk alat musik, baik seperangkat alat band maupun kentongan dan rebana.

Ya, menjelang lebaran selalu dimeriahkan dengan perayaan takbir keliling, yang merupakan salah satu sarana hiburan bagi warga, baik yang berdomisili setempat maupun yang baru mudik dari perantauan. 

Bisa dipastikan ketika proses takbir keliling ini berlangsung, suasana menjadi riuh dengan gema suara takbir yang ditimpali bebunyian musik -modern maupun tradisional- juga suara mercon dan kembang api. Dapat dipastikan juga jalanan akan menjadi macet.

Setelah Shalat Id.
Sesampai di rumah usai shalat di Masjid Agung, kami lantas mempersiapkan diri untuk berangkat ke Langgar -semacam surau kecil atau mushola-. Ada ritual kenduri di sana.

Masing-masing keluarga membawa ambengan atau berkat, yang berupa nasi dan lauk pauknya. Ada yang diwadahi nampan, ada yang diwadahi besek. Nanti setelah didoakan oleh tetua kampung dan pak kyai, ambengan tersebut akan ditukar-tukarkan dengan milik tetangga satu sama lain. Tapi terlebih dahulu ada semacam ceramah tentang kerukunan umat maupun kisah-kisah nabi.

Setelah kenduri selesai, orang-orang sibuk dengan agendanya masing-masing. Ada yang ziarah ke kubur leluhur, ada yang langsung silaturahmi dengan tetangga sekitar. 

Acara silaturahmi dengan saling berkunjung ke tetangga ini seringkali diramaikan oleh anak-anak kecil yang setelah bersalam-salaman meminta maaf dan memaafkan, mereka juga mengharapkan mendapat semacam angpao, terutama dari mereka-mereka yang mudik dari perantauan dan dipandang sukses usaha yang dijalankannya. 

Hal ini akan berlangsung selama 1-3 hari, karena setelah itu biasanya orang-orang akan berkunjung ke sanak saudaranya yang tinggalnya agak jauh dari kampung. 
Bagaimana dengan kampungmu?